Moskow (ANTARA) - Kelompok perjuangan Palestina, Hamas dan Zionis Israel menyepakati gencatan senjata selama 60 hari ke depan di Jalur Gaza, demkian lapor penyiar Al Arabiya yang mengutip berbagai sumber pada Kamis (29/5).

Sebelumnya pada hari itu, Hamas mengatakan pihaknya telah menerima usulan baru gencatan senjata di Jalur Gaza dari Utusan Khusus Amerika Serikat Steve Witkoff melalui mediator.

Sementara itu penyiar Israel Kan, yang mengutip beberapa sumber, melansir bahwa Israel sepakat dengan usulan baru Witkoff, namun Hamas keberatan dengan usulan tersebut lantaran tidak ada jaminan perang berakhir secara permanen dan penarikan penuh militer Israel dari wilayah kantong itu.

Menurut laporan, Utusan Khusus Presiden Donald Trump itu sudah diberitahu bahwa kedua pihak setuju untuk melakukan gencatan senjata.

Sumber: Sputinik-OANA

Pasien kanker di Gaza...


Sementara itu, dalam pemberitaan terpusah disebutkan berbagai sumber medis melaporkan bahwa 11.000 pasien kanker di Jalur Gaza terpaksa berhenti mendapat pengobatan dan layanan kesehatan yang memadai akibat penjajahan Israel yang berkelanjutan, yang mencegah pengiriman pasokan medis dan obat-obatan.

Sumber tersebut mengindikasikan bahwa kemoterapi intravena dan tindak medis lebih lanjut bagi pasien kanker di Jalur Gaza sudah berhenti total.

Mereka mencatat evakuasi Rumah Sakit Eropa dan Pusat Kanker Gaza telah memperburuk situasi bencana bagi pasien.

Mereka juga melaporkan bahwa 5.000 pasien kanker harus dirujuk segera ke luar negeri untuk pengobatan, baik untuk diagnosis atau kemoterapi dan terapi radiasi, apalagi mengingat minimnya peralatan diagnosis dini.

Selain itu, sebanyak 64 persen obat-obatan untuk kanker juga hilang.

Sumber-sumber medis itu menekankan bahwa para pasien kanker saat ini terjebak dalam kondisi kesehatan, sosial, psikologis, dan ekonomi yang sangat buruk. 

Sumber: WAFA


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Hamas-Israel sepakati gencatan senjata 60 hari