Kota Bukittinggi (ANTARA) - Petugas Pos Gunung Api (PGA) Gunung Marapi, Sumatera Barat (Sumbar) Teguh Purnomo menjelaskan tumpukan material letusan gunung api tersebut menyebabkan munculnya aliran air yang sewaktu-waktu berpotensi terjadinya banjir lahar dingin.

"Dari kejauhan bentuknya memang seperti rekahan pada bagian sisi puncak gunung, tapi itu merupakan aliran air yang muncul akibat tumpukan sedimen terutama saat musim hujan," kata Teguh Purnomo di Kota Bukittinggi, Sabtu.

Teguh mengatakan,  jika diamati dari kejauhan menggunakan bantuan kamera atau drone, bentuknya memang menyerupai rekahan atau retakan. Namun, hal tersebut merupakan bekas aliran air bercampur material seperti batu dan pasir yang mengikis puncak atau dinding gunung.

Ia menegaskan, setelah erupsi besar 3 Desember 2023 tidak ada perubahan struktur bentuk Gunung Marapi. Hanya saja, setelah musim penghujan bekas aliran air yang mengalir deras seolah-olah membentuk seperti retakan atau rekahan.

"Jadi, sebenarnya bukan retakan tetapi endapan material yang masih labil yang kemudian mengisi celah-celah. Ketika terjadi hujan lebat menciptakan aliran hujan yang menyatu dalam suatu lembah," jelas dia.

Teguh memastikan aliran air tersebut sudah ada sebelum letusan besar 3 Desember 2023. Hanya saja, selama ini aliran air itu diselimuti pepohonan yang tumbuh subur sebelum terjadinya erupsi secara tidak kontinu hingga kini.

Ia mengingatkan kondisi tersebut tidak bisa diabaikan karena sangat rentan dan berbahaya terutama saat hujan dengan intensitas tinggi. Hal yang paling mungkin terjadi yakni banjir lahar dingin seperti peristiwa 11 Mei 2024 yang menelan puluhan korban jiwa.

"Ini cukup berbahaya ya, terutama untuk daerah-daerah di sekitar aliran sungai yang berhulu langsung dari puncak Gunung Marapi," ujarnya mengingatkan.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga kini belum mengidentifikasi secara spesifik berapa jumlah aliran air yang muncul setelah letusan 3 Desember 2023. Namun, hasil pemantauan drone sebarannya berada di sisi lereng timur dan ke lereng selatan serta di lereng barat daya Gunung Marapi.

Baca selanjutnya
Aktivitas Gunung Marapi meningkat...

 


 Pos Gunung Api (PGA) Gunung Marapi melaporkan aktivitas gunung api yang berada di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar) meningkat terutama pada periode 1 hingga 18 Juli 2025.

"Ya, untuk aktivitas Gunung Marapi dari 1 hingga 18 Juli memang terjadi peningkatan dari sisi aktivitas erupsi," kata petugas PGA Gunung Marapi Teguh Purnomo di Kota Bukittinggi, Sabtu.

Peningkatan aktivitas kegunungapian tersebut ditandai dengan delapan kali erupsi tepatnya sejak 3 hingga 18 Juli 2025. Teranyar, PGA melaporkan gunung api itu meletus pada 18 Juli pukul 18.51 WIB dengan kolom abu teramati 1.000 meter di atas puncak.

Berdasarkan evaluasi periode 16 hingga 30 Juni, PGA mengamati terjadi fluktuasi aktivitas dari gempa vulkanik termasuk deformasi maupun secara visual gunung tersebut.

Saat ini Gunung Marapi masih berstatus Level II atau Waspada. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi di antaranya melarang masyarakat, wisatawan, atau pengunjung berkegiatan di dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas (Kawah Verbeek).

PVMBG juga mengingatkan ancaman potensi lahar dingin, terutama bagi masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu dari puncak gunung api.

Terkait endapan material di kawah gunung api itu, Teguh membenarkan belum ada kajian khusus mengenai berapa jumlah material sisa-sisa letusan terutama pascaerupsi besar 3 Desember 2023 yang menyebabkan 24 pendaki meninggal dunia.

Belum dilakukannya penelitian atau observasi perkiraan jumlah tumpukan material di dalam kawah atau sekitaran puncak Gunung Marapi karena hingga saat ini gunung api itu terus mengalami erupsi secara fluktuatif.

"Saat ini kajian itu belum bisa kita lakukan karena erupsi masih terus berlangsung," ujarnya.

Namun, apabila kondisi atau aktivitas gunung sudah mulai landai, PVMBG atau PGA akan melakukan survei secara langsung menggunakan metode pengukuran topografi maupun bantuan drone.

Tidak hanya itu, sambung dia, PGA atau PVMBG juga akan mengukur dan memastikan jumlah kadar kandungan gas beracun yang mengendap atau berada di sekitar Gunung Marapi. Hal penting dilakukan untuk memastikan keselamatan masyarakat agar tidak terpapar gas beracun seperti sulfur dioksida atau SO2.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: PGA: Tumpukan sedimen Marapi munculkan aliran air yang berbahaya