Batam (Antara Kepri) - Asosiasi pemilik kapal nasional Indonesia (INSA) mengeluhkan kurangnya bank yang memberikan layanan kredit untuk industri maritim, sehingga sulit berkembang.

"Tolong kami disehatkan, dengan mengadakan bank maritim, biar pengusaha maritim mau pinjam duit tidak susah lagi," kata perwakilan Indonesian National Shipowner Association (INSA) Kota Batam Suparno dalam Forum Dialog Pengembangan Kerja Sama Infrastruktur Kemaritiman antara Indonesia dan Amerika Serikat di Batam Kepulauan Riau, Selasa.

Ia mengatakan selama ini, pengusaha kapal kesulitan mendapatkan tambahan modal, sehingga usaha maritim tidak berkembang.

Padahal, para pengusaha sudah berkomitmen untuk memenuhi perairan nusantara dengan kapal-kapal berbendera Indonesia milik pengusaha pribumi.

"Merah putih harus berkibar di laut Indonesia," pekiknya.

Pemerintah harus serius memberikan perhatian kepada pengusaha kapal, demi menyukseskan program tol maritim.

Karena, menurut Suparno, percuma jika pemerintah menghabiskan banyak dana membangun pelabuhan pelabuhan bagus jika tidak ada kapal yang berlayar dan bersandar.

"Tolong kami diperhatikan di bidang 'shipping', percuma kalau bangun pelabuhan tidak ada armada," kata dia.

Di tempat yang sama, pengusaha galangan kapal Batam, Herlina, meminta pemerintah membuat peta lokasi untuk pembuangan material hasil pendalaman laut.

Ia mengatakan pendalaman harus dilakukan setiap beberapa tahun sekali demi perawatan tempat pembuatan kapal.

Berdasarkan pengalaman, kata dia, banyak pihak termasuk nelayan yang protes dengan lokasi pembuangan limbah pendalaman laut. Padahal pengusaha hanya berupaya menjalankan usaha.

"Kami sudah mengurus izin semua lengkap kami dapatkan. Tapi ketika mau 'dumping' banyak yang protes, masuk ke koran, ke tivi, kami dibilang pencemar laut," kata dia bercerita.

Dengan adanya peta dengan titik koordinat lokasi pembuangan limbah pendalaman laut, maka diharapkan tidak ada lagi pihak yang protes dengan rutinitas perusahaan galangan kapal. (Antara)

Editor: Rusdianto