Kepala Dinas Perpustakaan dan Kersipan Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau, Ir. Basri mengatakan keberadaan perpustakaan dan arsip juga merupakan bagian terpenting di sebuah daerah. Hadirnya perpustakaan sebagai salah satu tempat menyimpan aneka buku berisikan segudang ilmu pengetahuan. Begitu juga arsip yang menyimpan surat-surat, dan dokumen penting milik daerah. “ Kan tidak semua orang menganggap hal ini penting. Orang beranggapan kerja di perpustakaan hanya ngelap-ngelap, dan susun-susun buku “ ujar Basri.
Padahal kata Basri, suatu daerah bisa saja berkembang dengan cepat jika masyarakatnya memiliki banyak pengetahuan. Salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan menurut Basri bisa di dapatkan dengan cara giat membaca. Sebab masyarakat di negera-negara berkembang minat bacanya sangat tinggi. “ Jadi ini bukan membangun fisik. Membangun fisik berbeda dengan membangun manusianya. Saya kasih contoh negara-negara maju, negara yang rasio minat bacanya tinggi, negara itu lebih stabil dan makmur. Negara-negara masuk 10 besar yang rasio minat bacanya tinggi seperti Irlandia, Norwegia, Denmark, dan Singapura. Berdasarkan hasil riset Singapura termasuk negara paling pintar. Kalau America itu masih pada urutan kesepuluh “ ungkap Basri.
Menurut Basri, disetiap negara berkembang di ketahui masyarkatnya gemar membaca dan memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Disiplin membaca terlihat jelas pada diri masyarakat di negara-negara berkembang tersebut. “ Negara paling pintar adalah negara-negara yang minat bacanya sudah tinggi. Kita lihat Singapura, dan Jepang, orang kalau ngumpul baca buku, duduk dalam kereta atau naik apa saja, itu biasanya baca buku, di pesawat mereka baca buku. Nah orang Indonesia kalau ngumpul pada umumnya ngerumpi. Baca itu bisa melalui buku digital, media sosial, dan lain-lain. Intinya banyak baca banyak tau. Banyak tau berarti hidup akan mudah. Kalau kita banyak enggak tau kan jadi susah, secara logika seperti itu “ terang Basri. Senin (15/5).
Basri memastikan saat ini dinas yang di pimpinya sudah
merancang sejumlah program guna menggenjot minat baca masyarakat. “ Untuk
menumbuhkan minat baca ini multi factor. Mulai dari mendekatkan buku kepada
masyarakat. Jadi buku tidak bisa statis, dari tahun ke tahun hanya itu saja.
Takutnya lama-lama orang yang sudah ke
perpustakaan jadi malas, apalagi yang belum. Kita harus membuat program yang
pada akhirnya menumbuhkan minat baca. Beberapa minggu lalu kami sudah membuat
program lomba bercerita anak-anak tingkat SD dan Madrasah Ibtidaiyah. Kenapa
kita buat itu, karena ingin menumbuhkan minat baca dari dini. Anak-anak yang
mengikuti lomba bercerita, otomatis dia akan membaca “ tegas Basri.
Basri menerangkan, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk
dapat meningkatkan minat baca bagi anak-anak. Bisa melalui kegiatan lomba
menulis cerpen, puisi, menggambar, dan bedah buku. Semua itu bisa di lakukan
jika kesiapan anggaranya menjanjikan. “ Nah, ini berkelanjutan mulai dari
tingkat Desa, dan Kecamatan. Nanti yang juara di Kecamatan kita bawa ke
Kabupaten. Dari Kabupaten ke Provinsi, yang juara di tingkat Provinsi ke
Nasional. Semua Kecamatan di Natuna ini kan tersebar, otomatis program-program
ini bisa kita wujudkan manakala ada dukungan anggaran. Kalau anggaran kita
terbatas otomatis ruang gerak kita juga ikut terbatas “ papar Basri.
Basri memastikan, program yang sedang di rancangnya saat ini
sejalan dengan keinginan Bupati Natuna. Tinggal menunggu kapan bisa
direalisasikan, karena usulan tersebut sudah di sampaikan kepada Bupati Natuna.
“ Sekarang Dinas Perpustakaan dan Kearsipan sesuai dengan Visi Bupati yakni
Masyarakat Natuna yang Cerdas Mandiri Dalam Kerangka Keimanan dan Budaya
Tempatan. Melalui dinas ini kita ingin membuat program Natuna Membaca. Jadi program
Natuna Membaca ini kegiatannya fisik dan non fisik. Fisiknya apa, bagaimana
membangun satu desa satu perpustakaan. Tujuanya mendekatkan buku kepada
masyarakat. Kedua setelah program itu terwujud kita ingin membina perpustakaan
sekolah dan umum. Perpustakaan umum kedepan akan menjadi top senter pusat anak
muda. Supaya kedepan dia bisa menjadi pusat ilmu pengetahuan di desa. Nah itu yang kita ingin mewujudkan “ papar
Basri.
Lebih jauh, Basri memastikan tindak lanjut dari usulan
tersebut sudah di sampaikan kepada setiap Kepala Desa. “ Jadi kita juga perlu
pembangunan fisiknya. Kita sudah surati Pak Bupati. Pak Bupati surati desa
supaya mengalokasikan dana desa guna pengembangan perpustakaan di setiap desa.
Jadi inilah wujud bahwa kita serius ingin masyarakat desa cerdas. Program ini
tahun depan, tapi kita usulkan sekarang, karena dalam proyek pemerintah enggak
bisa hari ini mau, hari ini juga di buatkan. Kita harapkan program ini bisa
terwujud. Jadi Dinas Perpustakan dan Kearsipan akan terus membuat program-program
yang berkaitan dengan peningkatan minat baca. Semua itu tidak terlepas dari
politik anggaran yang berpihak, baru bisa terwujud “ imbuh Basri.
Sebagai Kepala Dinas yang diberi amanah, Basri meminta agar
tidak ada penilaian negatif terkait jumlah anggaran yang di usulkan untuk
mensukseskan program tersebut. “ Omong
kosong kalau bicara program tanpa didukung dengan anggaran. Program kerja bisa
terwujud manakala ada anggaranya. Bukan berarti tanpa anggaran enggak bisa.
Contoh kita mau ke Penagi, kalau kendaraan enggak ada minyak atau ongkos enggak
nyampe dong. Kedepan PR kita besar, bagaimana perpustakaan ini menjadi SKPD
yang exsis. Nah, kalau kita menganggap biaya-biaya yang dikeluarkan untuk
pengembangan perpustakaan itu beban, tentu sulit maju. Kalau kita anggap
biaya-biaya yang digunakan untuk pengembangan perpustakaan, baik pembangunan
gedung atau fisiknya maupun pengadaan buku-buku, termasuk pelatihan dan segala
macamnya sebagai investasi, baru kedepan kita bisa maju “ katanya menegaskan.
Basri menceritakan, di samping perpustakaan daerah, saat ini
pihaknya sudah memiliki sebanyak tujuh perpustakaan kecamatan. Disamping itu,
ada juga perpustakaan sekolah. “ Kalau perpustakaan sekolah itu Dinas
Pendidikan, pembinaannya kita. Jadi dari tujuh perpustakaan yang ada,
masaalahnya buku sudah terlalu lama. Dari tiga, empat tahun lalu bukunya itu
saja. Kemudian jumlahnya juga sedikit, kita lihat orang-orang yang rajin ke
perpustakaan juga sudah mulai berkurang. Karena bukunya tidak berubah. Jadi
sekarang kami coba melakukan mutasi atau rotasi buku supaya pembaca tidak
bosan. Untuk perpustakaan sekolah kami akan buat pola pinjam pakai. Contoh di
SD Segeram, mereka mengajukan pinjam pakai ke kita. Kemudian kita buat paketnya
300 buku, kita pinjam pakaikan pertriwulan. Terus kita evaluasi, kalau mereka
merasa buku itu masih perlu, kita perpanjangkan “ tutur Basri.
Dalam hal ini, Basri juga berharap adanya dukungan dari
insan pers sebagai penyampai informasi. Guna menggenjot minat baca serta
melahirkan kesadaran masyarakat bepata pentingnya buku. “ Kedepan saya juga
berharap melalui media yang ada, seperti RRI mungkin saya perlu bicara disana
supaya menumbuhkan minat baca terutama di kalangan masyarakat umum. Kalau kita
bicara kendala pertama anggaran, kedua SDM. Ketiga mungkin kurangnya perhatian
setiap instansi dalam menumbuhkan minat baca itu “ katanya menilai.
Lebih jauh lagi Basri menjelaskan, saat ini minat baca
masyarakat Indonesia tidak mencapai angka 0,1 persen, hanya berkisaran 0,097
persen. Karena itu, upaya melahirkan minat baca menjadi sangat penting
diciptakan. “ Sekarang bagaimana kita mendorong, mendekatkan perpustakaan
dengan masyarakat. Makanya saya ingin nantinya ada perpustakaan keliling. Orang
bisa datang langsung pilih buku, setelah di baca terus kembalikan. Judulnya
bukan perpustakaan keliling, tetapi pelayanan perpustakaan proaktif. Saat ini
dinas kita sudah punya tiga, kita punya jadwal ke sekolah-sekolah. Upaya kita
bagaimana bisa merebut perhatiannya “ jelas Basri.
Sejauh ini, Basri melihat buku-buku yang ada di perpustakaan
daerah kebanyakan hanya diminati oleh para pelajar dan mahasiswa. Sedangkan
masyarakat umum masih terbilang langka. “ Kalau orang dulu bilang membaca itu
jendela dunia. Sebenarnya membaca itu sudah bukan jendela lagi, tetapi gerbang
dunia. Saya melihat memang sedikit orang memiliki hobby membaca. Kalau bicara
Natuna mohon maaf, yang hobby membaca itu paling anak-anak sekolah dan
mahasiswa “ katanya mengakhiri. ( Antara )
Editor : Rusdianto