Ratusan peretas menyasar Kementerian Pertahanan Singapura
Jumat, 23 Februari 2018 10:19 WIB
Ilustrasi peretas (Reuters)
Singapura (Antaranews Kepri) – Ratusan peretas menyasar Kementerian Pertahanan Singapura, tetapi serangan tersebut atas undangan pemerintah dalam upaya tidak biasa untuk memperkuat keamanan siber.
Otoritas pada Rabu (21/2) menyatakan bahwa mereka telah membayarkan hadiah uang senilai 14.750 dolar AS (sekitar Rp201,5 juta) untuk peserta terbaik dari 264 peretas "white hat" (topi putih) -- spesialis yang berusaha memasuki jaringan untuk memeriksa kerentanan -- yang terlibat dalam proyek itu.
Program yang berlangsung dari pertengahan Januari sampai awal Februari itu diperkenalkan setelah peretasan memalukan tahun lalu, ketika peretas mencuri data pribadi dari sekitar 850 prajurit militer dan karyawan lain dari portal web Kementerian Pertahanan Singapura.
Program itu dijalankan dengan jaringan keamanan siber HackerOne, yang secara khusus mengoordinasikan "bug bounty programmes", dimana para peretas diberi hadiah karena berhasil menemukan kelemahan pada sistem komputer.
Peretas terbaik dalam kontes itu adalah Manajer Keamanan Siber dari Ernst and Young Singapore, yang hanya menyebut namanya sebagai Darrel dan berjuluk "Shivadagger" dalam jaringan. Dia diberi hadiah 5.000 dolar AS (sekitar Rp68,3 juta).
Total 97 laporan kerentanan disampaikan oleh 34 partisipan dalam program itu, dengan 35 laporan yang dianggap valid menurut Kementerian Pertahanan.
David Koh, kepala keamanan siber Kementerian Pertahanan Singapura, memuji proyek itu. "Sistem kami sekarang lebih aman," katanya.
Meski Singapura memiliki sejumlah persenjataan paling canggih di kawasan, Koh mengatakan bahwa risiko kementerian menjadi target meningkat dan para penyerangnya bisa berkisar dari murid SMA sampai aktor-aktor negara, demikian menurut siaran kantor berita AFP. (Antara)
Editor : Pradanna Putra
Otoritas pada Rabu (21/2) menyatakan bahwa mereka telah membayarkan hadiah uang senilai 14.750 dolar AS (sekitar Rp201,5 juta) untuk peserta terbaik dari 264 peretas "white hat" (topi putih) -- spesialis yang berusaha memasuki jaringan untuk memeriksa kerentanan -- yang terlibat dalam proyek itu.
Program yang berlangsung dari pertengahan Januari sampai awal Februari itu diperkenalkan setelah peretasan memalukan tahun lalu, ketika peretas mencuri data pribadi dari sekitar 850 prajurit militer dan karyawan lain dari portal web Kementerian Pertahanan Singapura.
Program itu dijalankan dengan jaringan keamanan siber HackerOne, yang secara khusus mengoordinasikan "bug bounty programmes", dimana para peretas diberi hadiah karena berhasil menemukan kelemahan pada sistem komputer.
Peretas terbaik dalam kontes itu adalah Manajer Keamanan Siber dari Ernst and Young Singapore, yang hanya menyebut namanya sebagai Darrel dan berjuluk "Shivadagger" dalam jaringan. Dia diberi hadiah 5.000 dolar AS (sekitar Rp68,3 juta).
Total 97 laporan kerentanan disampaikan oleh 34 partisipan dalam program itu, dengan 35 laporan yang dianggap valid menurut Kementerian Pertahanan.
David Koh, kepala keamanan siber Kementerian Pertahanan Singapura, memuji proyek itu. "Sistem kami sekarang lebih aman," katanya.
Meski Singapura memiliki sejumlah persenjataan paling canggih di kawasan, Koh mengatakan bahwa risiko kementerian menjadi target meningkat dan para penyerangnya bisa berkisar dari murid SMA sampai aktor-aktor negara, demikian menurut siaran kantor berita AFP. (Antara)
Editor : Pradanna Putra
Pewarta : ANTARA
Editor : Kepulauan Riau
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polda Kepri selidiki scam website perbankan yang membuat rugi pengusaha Batam
01 February 2026 19:51 WIB
Polda Kepri tangkap muncikari daring yang pekerjakan anak bawah umur
10 December 2024 13:42 WIB, 2024
Bawaslu Lingga bentuk tim pengawasan khusus guna awasi pelanggaran siber
24 September 2024 9:47 WIB, 2024
Terpopuler - Jagat
Lihat Juga
Tren "mudik terbalik" saat Imlek kian populer di kalangan anak muda di China
12 February 2026 12:12 WIB
Komisi Eropa ajukan keberatan ke Meta terkait pembatasan akses AI di WhatsApp
10 February 2026 13:54 WIB
Perdana Menteri Inggris minta maaf atas penunjukan dubes terkait kasus Epstein
06 February 2026 15:53 WIB
Gencatan senjata tahap kedua, 54 jenazah warga Palestina telah tiba di Gaza
05 February 2026 11:16 WIB
Warga Gaza kembali dapat perlakuan kasar dan ancaman Israel saat kembali lewat Rafah
04 February 2026 10:40 WIB