Permintaan kerajinan piala di Tulungagung menurun drastis
Senin, 10 Agustus 2020 5:33 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan kerajinan piala berbahan marmer di sentra kerajinan piala di Desa Campurdarat, Tulungagung, Jawa Timur (Jatim), Jumat (7/8/2020). (ANTARA/Destyan Sujarwoko)
Tulungagung, Jatim (ANTARA) - Permintaan paket produk kerajinan piala berbahan dasar batu marmer di Tulungagung, Jawa Timur (Jatim) tahun ini mengalami penurunan sekitar 30 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya sebagai imbas pandemi COVID-19 yang memicu pembatasan segala aktivitas perayaan keramaian di tengah masyarakat.
Sebagaimana diungkapkan Imam Mahfudin dan Ima Darwati, pasangan pelaku usaha "Sygma Trophy", Minggu, permintaan paket produk trofi atau piala dari tempat usaha mereka sangat minim menjelang puncak perayaan Hari Kemerdekaan RI tahun ini.
"Masih sepi-sepi saja ini. Belum ada geliat seperti tahun lalu. Kalau tahun lalu kan jam segini ini (pekan pertama Agustus) harusnya sudah panen raya. Ya, mungkin ini terkait dengan kebijakan protokol kesehatan. Kemudian kegiatan-kegiatan ataupun perlombaan ditiadakan demi mengantisipasi persebaran COVID-19 di tengah masyarakat," kata Imam menjelaskan.
Permintaan dari beberapa instansi maupun kelompok masyarakat hingga pemerintah desa memang masih ada. Namun volumenya jauh menurun.
Secara omzet, tahun lalu Imam dan Ima mengaku perputaran uang yang bisa mereka kelola dari produksi piala/trofi berbahan dasar marmer bisa mencapai Rp200 juta.
Sementara tahun ini, Imam menaksir angkanya tidak sampai Rp140 juta. "Ya imbasnya produksi kami juga batasi. Untuk stok dan juga melayani beberapa permintaan yang masih muncul," katanya.
Upaya untuk menyiasati kelesuan pasar, lanjut Imam, pihaknya menjalankan strategi optimalisasi pemasaran digital atau pemasaran berbasis daring.
Imam dan Ima bahkan melibatkan sejumlah tenaga IT (teknologi informasi) untuk menyebar produk mereka ke pasar domestik dalam skala nasional.
Hasilnya, meski tidak sebesar omzet tahun lalu, namun penjualan produk piala berbasis digital ini terus berdatangan dari berbagai penjuru daerah.
Sebagaimana diungkapkan Imam Mahfudin dan Ima Darwati, pasangan pelaku usaha "Sygma Trophy", Minggu, permintaan paket produk trofi atau piala dari tempat usaha mereka sangat minim menjelang puncak perayaan Hari Kemerdekaan RI tahun ini.
"Masih sepi-sepi saja ini. Belum ada geliat seperti tahun lalu. Kalau tahun lalu kan jam segini ini (pekan pertama Agustus) harusnya sudah panen raya. Ya, mungkin ini terkait dengan kebijakan protokol kesehatan. Kemudian kegiatan-kegiatan ataupun perlombaan ditiadakan demi mengantisipasi persebaran COVID-19 di tengah masyarakat," kata Imam menjelaskan.
Permintaan dari beberapa instansi maupun kelompok masyarakat hingga pemerintah desa memang masih ada. Namun volumenya jauh menurun.
Secara omzet, tahun lalu Imam dan Ima mengaku perputaran uang yang bisa mereka kelola dari produksi piala/trofi berbahan dasar marmer bisa mencapai Rp200 juta.
Sementara tahun ini, Imam menaksir angkanya tidak sampai Rp140 juta. "Ya imbasnya produksi kami juga batasi. Untuk stok dan juga melayani beberapa permintaan yang masih muncul," katanya.
Upaya untuk menyiasati kelesuan pasar, lanjut Imam, pihaknya menjalankan strategi optimalisasi pemasaran digital atau pemasaran berbasis daring.
Imam dan Ima bahkan melibatkan sejumlah tenaga IT (teknologi informasi) untuk menyebar produk mereka ke pasar domestik dalam skala nasional.
Hasilnya, meski tidak sebesar omzet tahun lalu, namun penjualan produk piala berbasis digital ini terus berdatangan dari berbagai penjuru daerah.
Pewarta : Destyan H. Sujarwoko
Editor : Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Danantara sebut Kesepakatan beli 50 pesawat Boeing oleh Garuda sudah ada sebelum Covid
29 July 2025 13:37 WIB
KSAD akomodasi permintaan masyarakat untuk maksimalkan layanan RSKI Galang
09 August 2024 9:13 WIB, 2024
SYL harap eksepsinya dapat diterima karena telah menjadi pahlawan saat COVID-19
13 March 2024 15:33 WIB, 2024
Terpopuler - Ekonomi & FTZ
Lihat Juga
Perum Bulog proses pembangunan infrastruktur pascapanen di Natuna perkuat ketahanan pangan
16 February 2026 13:45 WIB