
Presiden Jokowi meminta kementerian jajaki vaksinasi COVID-19 anak di bawah enam tahun

Jakarta (ANTARA) - Presiden Joko Widodo meminta jajaran kementerian terkait untuk menjajaki kemungkinan pemberian vaksin COVID-19 bagi anak usia di bawah enam tahun guna menjaga dan meningkatkan kadar imunitas masyarakat.
"Salah satu inisiatifnya adalah nanti Bapak Presiden minta vaksinasi untuk anak-anak di bawah enam tahun nanti kita akan mulai jajaki," kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi dalam keterangan pers seusai Rapat Kabinet Terbatas terkait Evaluasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dipimpin Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa.
Sudah ada vaksinnya di dunia yang disetujui, vaksinasi pediatric namanya dan sedang kita jajaki, tambahnya.
Hal itu menjadi salah satu inisiatif yang mungkin ditempuh pemerintah guna menjaga tingkat imunitas 98,5 persen masyarakat dan kadar 2.000 unit per mililiter, sebagaimana hasil sero survei terkini pada Juli 2022.
Inisiatif kedua yang menjadi opsi pemerintah adalah pemberian vaksinasi COVID-19 bagi kelompok lanjut usia, komorbid, serta mereka yang kadar imunitasnya sudah turun atau lebih dari enam bulan.
"Karena kita sudah tahu by name by address, nanti akan kita akan berikan alternatif vaksin yang ada, agar bisa meningkatkan kadar imunitasnya demi menjaga level imunitas Indonesia untuk menghadapi, siap-siap di awal tahun depan kalau misalnya ada varian baru," kata Menkes.
Budi menyebutkan, potensi varian baru maupun mutasi virus COVID-19 mungkin terjadi karena kondisi kasus konfirmasi di beberapa negara seperti Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat yang berada di atas 100 ribu kasus per hari.
Menkes mengingatkan bahwa keberhasilan Indonesia menekan laju kasus konfirmasi harian tersebut tidak lepas dari level imunitas masyarakat yang sudah tinggi berkat dua hal.
Pertama tingkat vaksinasi yang gencar pada November 2021 sampai dengan Januari 2022, dan kedua karena infeksi gelombang varian Omicron pada Februari-Maret 2022.
"Kombinasi vaksinasi di bulan November, Desember, Januari, dan infeksi di bulan Februari dan Maret, itu akibatkan di bulan Juni, Juli, dan Agustus kadar antibodi Indonesia itu tinggi sekali. Boleh dibilang saat gelombang (subvarian) BA.4 dan BA.5 masuk bisa dibilang kita tidak terganggu sama sekali," papar Menkes.
Kendati demikian, Indonesia kini dihadapkan pada tantangan yang menurut Menkes baru mungkin muncul enam bulan lagi dan untuk itu langkah paling utama adalah dengan menjaga level imunitas setinggi saat ini.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan saat ini sedang memperdalam kajian pemberian vaksin COVID-19 kepada kelompok rentan yang belum bisa mengikuti vaksinasi. Kajian yang dilakukan termasuk bagi lansia dan penderita komorbid.
Rencananya pemberian vaksinasi pada kelompok dengan antibodi rendah itu akan dimulai pada akhir tahun 2022. Di samping pemerintah menggencarkan dosis vaksin COVID-19 lanjutan bagi kelompok lansia dan komorbid sesuai dengan nama dan tempat tinggalnya.
Hal itu terus diupayakan agar antibodi yang dimiliki masyarakat saat ini tetap terbentuk setelah antibodi sejumlah pihak mengalami penurunan akibat enam bulan lebih tidak melakukan vaksinasi lanjutan.
“Kita segera berikan alternatif vaksin yang ada agar bisa meningkatkan kadar imunitasnya, untuk menjaga level imunitas populasi Indonesia, untuk menghadapi atau siap-siap pada awal tahun depan kalau misalnya ada varian baru,” ucap Budi.
Menurut Budi, turunnya antibodi tidak bisa disepelekan karena mutasi virus akan terus terjadi, meski hasil atau dampak yang diberikan oleh subvarian baru yang lahir jauh lebih lemah dari subvarian yang sebelumnya.
“Jadi mutasi virus itu akan membuat inangnya lebih susah mati. Itu mengapa sebabnya virus yang baru pasti lebih lemah dari virus yang lama, karena dia tidak ingin juga cepat-cepat mati. Itulah sebabnya Omicron lebih lemah dari Delta,” ujarnya.
Budi mengatakan apabila pemerintah sudah memiliki data valid terkait pihak-pihak yang telah melakukan vaksinasi beserta dosis terakhir yang didapatkan, sehingga harapannya distribusi vaksin pada pihak yang diprioritaskan dapat diberikan tepat sasaran.
Budi berharap upaya tersebut dapat menjaga kadar antibodi masyarakat tetap tinggi, saat negara akan menghadapi kemungkinan terjadinya mutasi virus COVID-19 yang baru pada awal tahun 2023.
“Dengan demikian, kita akan memprioritaskannya bukan vaksin booster I, booster II atau booster III. Tapi kapan terakhir dia yang bersangkutan divaksin karena makin lama dia divaksin, otomatis makin rendah kadar antibodinya itu caranya kita prioritaskan,” kata Budi.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Presiden minta jajaki vaksinasi COVID-19 anak usia di bawah enam tahun
Pewarta : Gilang Galiartha
Editor:
Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
