
Tasikmalaya: Waspadai Perayaan Valentine Ajang Seks Bebas

Tasikmalaya (ANTARA News) - Kalangan remaja harus waspada terhadap perayaan Hari Valentine yang dikhawatirkan sebagai ajang kesempatan memicu hubungan seks bebas, kata Asep M Tamam, pengamat sosial di Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin.
"Kalau di kota-kota besar, bukan hanya sekadar memberikan cokelat atau kado sebagai hadiah kepada pasangannya, tapi tidak jarang malah mengarah pada munculnya 'prosesi' seks bebas," kata Asep yang juga dosen di beberapa perguruan tinggi di Jawa Barat.
Hari Valentine yang dirayakan setiap 14 Februari, menurut Asep kerap menjadi ajang seks bebas karena dinilai cocok sebagai momen untuk mencurahkan rasa kasih sayang kepada pasangan atau kekasih.
Dikatakan, jika pasangan kekasih atau dua insan tersebut tidak mampu mengendalikan perasaannya, tidak jarang akan berujung pada praktik melakukan seks bebas.
"Meskipun praktik seperti itu bisa saja terjadi bukan hanya pada Hari Valentine, tapi kemungkinan pada hari kasih sayang itu kesempatan lebih tinggi seiring timbulnya rasa kesahduan," katanya.
Menurut dia, ada dua kekuatan dalam perayaan Valentine, yakni kapitalis dan moralitas. Karenanya, dalam hal ini ada yang diuntungkan, sekaligus ada pula yang dirugikan.
Ia menjelaskan, dari sisi kapitalis, masyarakat sebagai penjual coklat atau pernak-pernik untuk dijadikan kado Valentine akan diuntungkan, sementara dari sudut moralitas, tentu masalah yang berkaitan dengan seks bebas akan merusak moral bangsa.
"Negara kapitalis, dalam hal ini banyak yang memanfaatkan Hari Valentine untuk dunia bisnis. Tapi kalangan moralis di Indonesia, saya rasa sudah banyak yang memerangi atau menolak budaya Valentine ini," katanya.
Upaya antisipasi kalangan remaja agar tidak terjerumus dalam perilaku melanggar norma-norma, menurut Asep, diperlukan peran orang tua, sekolah dan pemuka agama. Mereka harus terus-menerus memberikan perhatian karena para remaja yang membutuhkan bimbingan dari orang dewasa.
Meskipun perkembangan perayaan Hari Valentine dari tahun ke tahun di Indonesia tampak semakin menyurut, namun ia menilai media massa dalam pemberitaannya lebih mengarah pada opini tentang latar belakang munculnya Valentine yang tidak ada manfaatnya.
"Ini sebetulnya bentuk perlawanan. Tapi saya nilai tugas dari para ulama, tokoh masyarakat sudah maksimal dengan munculnya beberapa bentuk penolakan," katanya.
(ANT-FPM/P004/Btm1)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
