
IMI : Jembatan Selat Sunda Kurang Efektif

Jakarta (ANTARA News) - Rencana pemerintah yang akan membangun jembatan Selat Sunda mendapat kritikan oleh Indonesia Maritime Institute (IMI), bahwa jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera dinilai kurang efektif atau akan lebih banyak "mudharatnya" dibanding manfaatnya.
Direktur Eksekutif IMI Y Paonganan di Jakarta, Sabtu menjelaskan bagaimana rawannya jembatan tersebut.
"Pembangunan jembatan Selat Sunda sangat rentan dan bisa jadi penghamburan anggaran walaupun itu dana investor apalagi kalau sifatnya pinjaman atau Loan (utang)," katanya.
Doktor bidang Kelautan lulusan IPB ini menilai, rentannya jembatan tersebut, karena adanya anak Gunung Krakatau yang sewaktu-waktu bisa meletus, yang tentunya akan menimbulkan gempa dan gelombang tsunami, ini tidak bisa diprediksi.
Selain itu, katanya, dengan adanya jalur gempa di selatan Pulau Jawa dan sepanjang pesisir barat Sumatera akan sangat riskan terhadap jembatan tersebut.
Belum lagi dengan adanya pembangunan jembatan tersebut, akan membangun tanggul penyangga jembatan yang tentunya akan mengubah pola arus laut yang akan berimplikasi terhadap perubahan komposisi oseanografi dan ekosistem laut yang bisa berubah tatanan kehidupan di dalam laut.
Paonganan yang akrab disapa "Ongen" itu menegaskan, IMI menolak pembangunan jembatan Selat Sunda yang berjarak sekitar 31 km dengan biaya tinggi, karena riskan baik dari sisi kerentanan terhadap gempa maupun dari sisi ekologis perairan laut Jawa.
IMI juga mendesak pemerintah untuk mempertimbangkan dangan cermat sebelum melakukan hal tersebut, dan jika pemerintah tetap "ngotot" harus mampu meyakinkan rakyat Indonesia baik secara ilmiah dan teknis khususnya kaitannya dengan kerentanan gempa dan ekologi perairan. Sebagai negara maritim yang dikelilingi oleh cincin api, harusnya pemerintah tahu betul dampak yang akan ditimbulkan.
"Jangan menganggap sepele, kita harus belajar dari gempa dan tsunami di Jepang, dengan teknologi yg sangat tinggipun, gempa dan tsunami tidak peduli, bahkan teknologi tinggi sekelas PLTN saja dibuat rata dengan tanah," demikian Y Paonganan.(*)
(R009/K004)
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
