Logo Header Antaranews Kepri

Kasus HIV RSUD Batam Meningkat 100 Persen

Senin, 22 Agustus 2011 15:44 WIB
Image Print

Batam (ANTARA News) - Kasus temuan pengidap virus HIV/AIDS di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam pada pertengahan Agustus 2011 meningkat 100 persen dibanding bulan sebelumnya.

Konselor HIV/AIDS RSUD Kota Batam, Drg Kesfida Kesry di Batam, Senin mengatakan dalam sebulan terakhir terdapat empat pasien RSUD yang positif HIV meningkat dibanding Juli hanya dua kasus.

"Memang tidak banyak, tapi jumlahnya meningkat," kata Kesfi.

Ia mengatakan empat pengidap HIV/AIDS itu dirawat inap di RSUD setelah melalui pemeriksaan lanjutan.

"Rata-rata mereka ditemukan positiv HIV setelah dicurigai dan ada pemeriksaan lanjutan," kata dia.

Menurut Kesfi, mayoritas pengidap HIV/AIDS yang ditemukan di RSUD Embung Fatimah adalah heteroseksual yang suka berganti-ganti pasangan.

"Tapi ada juga kasus yang ditemukan dari kalangan waria dan homoseksual," kata dia.

Sementara itu, meskipun secara nominal angka pengidap HIV/AIDS di RSUD Embung Fatimah relatif kecil, namun ia mengatakan temuan pengidap penyakit mematikan itu mengindikasikan jumlah penderita HIV/AIDs di Batam terus meningkat.

Menurut dia, jumlah pengidap HIV/AIDS sulit dipantau karena pemeriksaan penyakitnya tidak bisa dipaksakan kepada pasien dengan gejala-gejala tertentu. Melainkan harus sukarela penderita.

"Misalnya di UGD ada pasien yang didiagnosa malaria. Setelah kita cek LED (laju endapan darah-red) tinggi. Dan ternyata dia positiv HIV," kata Kesfi.

Untuk itu, kata dia, masyarakat harus waspada dan terbuka untuk memeriksakan diri ke dokter dan konselor," kata dia.

Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri, kata dia, amat penting, karena penyebaran HIV/AIDS menyangkut perilaku keseharian pasien.

Agar terhindar dari penyebaran virus yang menyerang sistem daya tahan tubuh itu, ia mengatakan masyarakat harus melakukan tindakan pencegahan dengan hubungan seks secara aman dan rutin memeriksa kesehatan ke dokter.

"Terutama bagi yang suka 'jajan' ke lokalisasi. Mereka bisa memproteksi diri, misalnya dengan memakai alat kontrasepsi," katanya.

Sementara itu, Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Kota Batam Pieter Pureklolong mengatakan jumlah kematian orang akibat terjangkit "human immunodeficiency virus" dan "acquired immune deficiency syndrome/acquired immunodeficiency syndrome" di Batam, Kepulauan Riau, meningkat tajam.

"Dalam setengah tahun ini mulai Januari hingga Juni sudah 31 orang meninggal, padahal pada 2010 selama setahun penuh 'hanya' tercatat kematian 43 orang akibat keganasan virus tersebut," kata Pureklolong.

Ia mengatakan pada Januari hingga Juni 2011 terdapat 31 orang yang meninggal karena HIV/AIDS terdiri dari 15 pria dan 16 wanita.

Menurut Pureklolong, banyak faktor yang membuat jumlah penderita di Batam terus meningkat dari tahun ke tahun, namun hubungan seksual dengan pekerja seks komersial menjadi faktor utama penyebaran HIV/AIDS di Batam.

"Menjamurnya tempat prostitusi di Batam memang menimbulkan dampak yang signifikan terhadap peningkatan penderita HIV/AIDS baru," kata dia.

Faktor lain, katanya, penggunaan narkoba dengan suntik, kesukaan pada sesama jenis kelamin dan penularan virus dan penyakit dari orang tua pada anak-anak.

"Di Batam sudah ditemukan wanita hamil yang terjangkit HIV/AIDS. Beberapa orang tua mengetahui dirinya terjangkit saat melahirkan anaknya yang juga telah positif HIV/AIDS," tambah dia.

Pengidap HIV ditemukan pertama kali di Batam pada 1992, hingga kini sekitar 1.600 warga telah terjangkit.

(ANT-YJN/K005/Btm3)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026