Logo Header Antaranews Kepri

Haji - Tidak Ada JCH Embarkasi Batam Dirampok

Senin, 10 Oktober 2011 15:53 WIB
Image Print

Batam (ANTARA News) - Hingga kini tidak ada jamaah calon haji Embarkasi Hang Nadim Batam yang dilaporkan menjadi korban perampokan di Tanah Suci.

"Tidak ada laporan jamaah kami menjadi korban kejahatan," kata Sekretaris Panitia Pelaksana Ibadah Haji Embarkasi Hang Nadim Batam Erizal Abdullah di Batam, Senin.

Ia mengatakan, seluruh jamaah Embarkasi Batam yang tiba di tanah suci dalam keadaan aman. Hanya seorang di antaranya yang dirawat di Balai pengobatan Haji Indonesia-Madinah karena sakit, yaitu Zainina, asal Kota Jambi, Provinsi Jambi yang tergabung dalam kelompok terbang pertama.

Meski begitu, Erizal mengingatkan jamaah agar selalu waspada dan kompak dalam menjalankan ibadah, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

"Dengan kompak, maka otomatis antara satu calon haji dengan yang lainnya saling menjaga keselamatan masing-masing," kata Erizal.

Sementara itu, Wali Kota Dumai Khairul Anwar dalam sambutannya saat melepas jamaah calon haji kloter sembilan Embarkasi Hang Nadim Batam, Senin, mengingatkan jamaah untuk menyiapkan fisik dan mental untuk menjalani rangkaian ibadah.

"Seiring dengan niat ini, kita tinggalkan kemilau dunia yang menyelimuti diri, berikut juga meninggalkan jabatan, rasa keangkuhan dihilangkan untuk menjadi haji yang mandiri," kata dia.

Wali Kota meminta jamaah untuk mengikhlaskan diri dengan bertawakal.

"Insya Allah dengan berserah diri semua yang ditinggalkan akan terlindungi dan menyia-nyiakannya," kata dia.

Waspada Perampokan

Di Padang, Menteri Agama Suryadharma Ali meminta seluruh jamaah haji Indonesia mewaspadai berbagai aksi kejahatan saat berada di Tanah Suci.

"Jamaah haji harus selalu waspada, apalagi jumlah aparat keamanan di sana relatif terbatas untuk mengawasi semua aktivitas," kata Menag.

Menurut dia, pelaku kejahatan terhadap jamaah pada musim haji di Arab Saudi ada yang orang Indonesia, dan mereka menggunakan modus berpura-pura menawarkan bantuan.

"Karena menggunakan bahasa yang sama, ada di antara jamaah percaya mereka memang menawarkan bantuan, meski sebenarnya ingin berbuat jahat," kata Menag.

Ia mengatakan, para pelaku kejahatan tersebut memahami jumlah aparat kemanan terbatas, sementara jamaah datang dari latar belakang beragam.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026