Logo Header Antaranews Kepri

Minyak Tanah di Karimun Langka

Jumat, 9 Desember 2011 21:51 WIB
Image Print

Karimun (ANTARA Kepri) - Kalangan warga di Pulau Karimun Besar, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, Jumat mengeluhkan sulitnya mendapatkan minyak tanah setelah bahan bakar untuk keperluan rumah tangga itu langka sejak pekan lalu.

"Sejak pagi saya sudah mendatangi sejumlah pengecer, semuanya mengatakan tidak memiliki persediaan minyak tanah," kata Yati, warga Pelipit, Tanjung Balai Karimun.

Yati mengaku persediaan minyak tanah untuk memasak tinggal sedikit dan diperkirakan sudah habis Sabtu (10/12) besok. Dia khawatir tidak bisa memasak jika belum mendapatkan minyak tanah esok hari.

"Kalau begini keadaannya, mau tak mau kami terpaksa menggunakan kayu bakar agar tetap bisa memasak," ucapnya.

Hal yang sama diungkapkan Liani, warga Sei Ayam yang mengatakan pangkalan minyak tanah di Jalan Pertambangan, Sei Ayam tutup.

"Tadi saya ke pangkalan di Sei Ayam, tapi tutup sementara persediaan minyak tanah di rumah sudah habis," ucapnya.

Dia mengatakan telah mendatangi beberapa pangkalan di kelurahan lain, namun sebagian besar tutup.

"Ada beberapa pengecer yang buka, tapi harganya mahal dan pembelian dibatasi, saya sendiri hanya dapat satu liter," katanya.

Kelangkaan minyak tanah memicu kenaikan harga, beberapa pengecer masih menjual dengan harga tinggi melebihi harga eceran nyata (HEN) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp3.125.

Sebagian pengecer di Tanjung Balai Karimun masih menjual minyak tanah pada kisaran Rp8.000 hingga Rp10.000 untuk takaran botol air mineral ukuran 1,5 liter, bahkan di Parit Benut, Kelurahan Sei Raya, Meral masih menjual tinggi dengan harga Rp15.000 per 1,5 liter.

"Harga sebesar Rp15.000 memang sudah turun dibandingkan kemarin yang menembus Rp20.000 per 1,5 liter. Namun tetap saja mahal karena harga normal hanya Rp7.000 per 1,5 liter," ucap Eka, warga Parit Benut.

Satu pangkalan BBM di Batu Lipai yang masih memiliki persediaan minyak tanah diserbu puluhan warga, Jumat sore.

Sebagian warga membeli minyak tanah dengan menggunakan botol bekas air mineral, sebagian lain membawa jerigen.

"Meski kami bawa jerigen, tapi tidak dibolehkan membeli dalam jumlah banyak. Maksimal hanya lima liter dengan harga Rp22.000," kata Rustam, warga.

Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Kabupaten Karimun Herwansyah mengatakan kelangkaan minyak akibat keterlambatan kapal pengangkut dari depo Pertamina Tanjunguban, Pulau Bintan.

Masalah cuaca di laut mengakibatkan kapal pengangkut datang terlambat dan ditambah lagi terjebak antrean di depo Pertamina Tanjunguban," katanya.
(pso-028/B012)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026