Logo Header Antaranews Kepri

Warga Pulau Buluh Keluhkan Debu "Sandblasting Shipyard"

Senin, 23 April 2012 09:53 WIB
Image Print

Batam (ANTARA Kepri) - Warga Pulau Buluh yang terletak sekitar 1,5 kilometer sebelah selatan Pulau Batam mengeluh akibat debu kegiatan "sandblasting" galangan kapal di kawasan Tanjunguncang, yang mengakibatkan banyak warga terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

"Debu dari kegiatan 'sandblasting' (penyemprotan dengan pasir silika untuk membersihkan karat pada kapal sebelum pengecatan) yang dilakukan d iruang terbuka ini terbang ke udara dan membuat polusi tersendiri di kawasan Pulau Buluh, akibatnya banyak warga terserang ISPA," kata tokoh masyarakat Pulau Buluh, Tohir, Minggu.

Bila tidak terjadi hujan, kata dia, debu "sandblasting" sangat mengotori udara dan rumah-rumah warga yang berdampak pada banyaknya warga terserang ISPA.

"Kondisi ini sudah dialami warga Pulau Buluh sejak lama saat industri perkapalan mulai berkembang di kawasan Tanjunguncang dan Sagulung. Debu kegiatan "sundblasting" mengakibatkan polusi di Pulau Buluh," kata dia.

Selain mengakibatkan ISPA, kata dia, debu juga mengakibatkan mata pencaharian nelayan sekitar wilayah tersebut terganggu.

"Kami terpaksa harus melaut ke daerah yang lebih jauh karena ekosistem laut Pulau Buluh dan perairan sekitarnya sudah tercemar dan ikan sulit dicari lagi," kata dia.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Chandra Rizal mengatakan kegiatan "sandblasting" mengakibatkan penderita ISPA di Batam sangat tinggi.

"Demu 'sandblasting' menjadi salah satu penyebab utama banyak masyarakat terserang ISPA. Saat ini ISPA menjadi penyakit paling banyak diderita masyarakat Batam," kata dia.

Sebelumnya, Kepala Badan Pengendali Dampak Lingkungan Kota Batam, Dendi N Purnomo mengatakan pihakya telah meminta kepada 76 perusahaan galangan kapal yang ikut sosialisasi, untuk melakukan "sandblasting" di ruangan tertutup.

Berdasarkan hasil monitoring pihaknya, untuk lempengan baja, besi, pipa sudah di tempat tertutup, namun yang sudah berbentuk kapal itu yang sulit karena terkendala tidak adanya fasilitas khusus.

"Tetapi, kami sudah minta supaya setidaknya ditutup memakai jala yang rapat, atau perusahaan melakukan penghijauan untuk mengurangi debu," kata Dendi.

Dendi juga mengatakan, Wali Kota Batam Ahmad Dahlan juga sangat mendukung pelarangan terhadap kegiatan sandblasting tersebut dilakukan pada ruang terbuka. (KR-LNO/H-KWR)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026