
FSPMI Minta Presiden Perhatikan Nasib Pekerja

Batam (ANTARA Kepri) - Koordinator Garda Metal FSPMI Batam Suprapto meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memperhatikan nasib pekerja.
"Kami minta Presiden betul-betul memperhatikan nasib pekerja, tidak hanya sekadar pencitraan menemui pekerja," kata Suprapto di Batam, Jumat.
Rencananya hari ini (27/4) Presiden akan berdialog dengan perwakilan dari serikat pekerja usai meresmikan Rumah Susun Sewa Pekerja.
Suprapto mengatakan harapan hasil dialog langsung dengan Presiden dapat dirumuskan dalam kebijakan pemerintah. "Tidak hanya omong-omong saja," kata dia.
Ia mengatakan kondisi pekerja di Batam sangat memprihatinkan, dan mayoritas miskin.
Upah minimum yang ditetapkan bersama pemerintah tidak mencukupi karena biaya kebutuhan hidup amat besar.
Menurut dia, selama ini orang luar Batam berfikir buruh di Batam makmur karena bekerja di kawasan industri bergengsi.
"Presiden harus tahu kondisi yang sebenarnya," kata dia.
Ketua Federasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Saiful Badri mengatakan menyambut baik itikad Presiden berdialog dengan pekerja.
"Tapi kami harap ini tidak sekadar politik, tapi benar-benar perhatian," kata dia.
Dengan dialog langsung, kata dia, Presiden dapat tahu kondisi pekerja secara langsung. Bukan dari laporan bawahannya.
Pekerja mengajukan empat tuntutan dalam diskusi bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Empat tuntutan itu adalah penghapusan praktek "outsourcing", upah layak, percepatan pemberlakuan UU PPJS dan Revisi Permenaker tentang komponen kebutuhan hidup layak.
Pekerja menganggap praktek outsourcing menyengsarakan buruh karena memberikan kepastian.
Presiden diagendakan berada di Batam selama dua hari untuk meresmikan Rusun Pekerja Jamsostek dan berdialog dengan pekerja.
Presiden didampingi beberapa menteri, antara lain Menteri Koordinasi Perekonomian, Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat, Menteri Tenaga Kerja, Menteri Perdagangan dan Menteri Perumahan. (Y011/K005)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
