
Bupati: Keterbatasan Infrastruktur Hambat Pengembangan FTZ Karimun

Karimun (ANTARA Kepri) - Bupati Karimun Nurdin Basirun mengakui keterbatasan sarana infrastruktur masih menjadi penghambat dalam mengembangkan kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (free trade zone/FTZ) di sebagian wilayah Pulau Karimun Besar, Provinsi Kepulauan Riau.
"Kami mengimbau kepada investor yang sudah berinvestasi untuk bersabar dengan masih belum sempurnya sarana infrastruktur di kawasan perdagangan bebas," katanya di Tanjung Balai Karimun, Jumat.
Nurdin Basirun menyebutkan beberapa sarana infrastruktur penting yang belum tersedia di FTZ, di antaranya belum adanya pelabuhan peti kemas yang berfungsi mendorong pertumbuhan industri selain galangan kapal atau shipyard.
"Pelabuhan Malarko di Desa Pongkar yang ditargetkan sebagai pelabuhan peti kemas bertaraf dunia masih dalam tahap pembangunan. Pembangunannya terus digesa sejak beberapa tahun ini dengan menggunakan anggaran dari pemerintah pusat," katanya.
Penyelesaian Pelabuhan Malarko, kata dia, membutuhkan anggaran tambahan sebesar Rp70 miliar yang diharapkan dapat dianggarkan pemerintah pusat pada tahun 2013. Saat ini, realisasi pembangunan mega proyek itu baru mencapai 50 hingga 55 persen.
"Kami berharap pusat mengganggarkan dana sebesar itu pada tahun 2013 sehingga dapat mendukung industri selain galangan kapal, seperti industri garmen dan aktivitas perdagangan," katanya.
Masalah listrik dan air bersih, lanjut dia, juga masih belum mampu memenuhi kebutuhan investor. Meski demikian, pemerintah daerah sedang berupaya untuk mengatasinya dengan menjalin kerja sama melalui berbagai pihak.
"Untuk listrik sudah mulai teratasi, apalagi sekarang sudah ada mesin pembangkit listrik tenaga uap di Tanjung Sebatak, Kecamatan Tebing. PLN merencanakan akan menambah mesin PLTU itu untuk melayani kebutuhan investor," katanya.
Menyinggung fasilitas air bersih, dia mengatakan pihaknya sudah mengupayakan melalui perusahaan daerah yang bekerja sama dengan PT Petromas Wingstar untuk pembangunan instalasi air bersih dari Danau Sentani Tanjung Balai Karimun.
"Perseroan Terbatas (PT) Petromas Wingstar menginvestasikan modalnya sebesar Rp500 miliar untuk memperbaharui dan menambah pipa penyaluran air bersih dari Sentani sehingga dapat menjangkau seluruh wilayah di Pulau Karimun Besar," katanya.
Lebih lanjut dia mengatakan bahwa bandar udara (bandara) yang melayani penerbangan komersial juga menjadi kendala dalam mempercepat akses transportasi yang merupakan sesuatu yang sangat penting bagi investor.
Bandara Bati di Tebing yang selama ini menjadi bandara nonkomersial, menurut dia, akan menjadi bandara komersial untuk menunjang investasi di FTZ.
"Bandara Bati juga sedang dibangun dengan anggaran dari pusat. Saat ini, masih dalam penimbunan untuk perpanjangan landasan pacu," katanya.
Jika sejumlah infrastruktur tersebut selesai dalam dua tahun ke depan, Bupati optimistis pengembangan investasi akan menjadi lebih pesat.
"Kepada investor yang telah menanamkan modalnya, kami ucapkan terima kasih meski belum dapat terlayani dengan baik dengan keterbatasan sarana infrastruktur itu. Sementara itu, bagi investor yang berancang-ancang untuk berinvestasi, realisasikanlah rencana itu karena kami terus berupaya untuk memberikan pelayanan yang prima," katanya. (KR-RDT/D007)
Editor: D Kliwantoro
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
