Logo Header Antaranews Kepri

Perolehan Adipura Tanjungpinang Dipertanyakan

Rabu, 6 Juni 2012 13:32 WIB
Image Print

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Kota Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau, yang memperoleh Piala Adipura sebagai kota sedang terbersih dipertanyakan beberapa kalangan termasuk pemerhati lingkungan dan wakil rakyat.

"Siapapun seharusnya bisa melihat secara objektif, apakah pantas atau tidak mendapatkan penghargaan sebagai kota sedang terbersih itu. Di mana-mana sampah masih berserakan apalagi di sepanjang tepi laut yang menjadi gerbang Tanjungpinang," kata Ketua Umum Forum Peduli Lingkungan Hidup Provinsi Kepulauan Riau (FPLH Kepri), Abdul Latif di Tanjungpinang, Selasa.

Abdul Latif mengatakan, ikut berbesar hati Tanjungpinang mendapat penghargaan itu, namun hendaknya tidak hanya bersih dan asri pada saat tim penilai Adipura datang.

Di daerah pemukiman yang berada di Pelantar 1 hingga daerah Potong Lembu dan pasar, menurut Latif, tumpukan sampah yang dibuang ke laut dan bau busuk cukup menyengat tidak pernah menjadi perhatian pemerintah setempat untuk menanggulanginya.

Selain itu, menurut dia Tanjungpinang juga sudah tidak hijau lagi akibat penambangan bauksit tepat di tengah kota.

"Di Indonesia, mungkin hanya di Kota Tanjungpinang yang ada tambang bauksit legal maupun ilegal di pusat kota," katanya.

Perambahan hutan maupun mangrove untuk tambang bauksit itu menurut dia juga sebagai salah satu pemicu meningkatnya suhu udara di Tanjungpinang yang mencapai 34-35 derajat celcius.

"Pada 2004 suhu udara di Tanjungpinang hanya 32 derajat Celcius, sekarang sudah mencapai 34-35 derajat Celsius yang kami duga salah satu pemicunya akibat pembabatan mangrove dan pembukaan lahan bauksit di tengah kota," ujarnya.

Warga kota menurut Latif yang juga anggota Dewan Sumber Daya Air Kepri sudah kesulitan mendapatkan air bersih, bahkan ada yang sumurnya kering yang diduga akibat kerusakan lingkungan.

"Kami mengharapkan, dengan penghargaan itu menjadi bahan kajian dan evaluasi bagi Pemkot Tanjungpinang untuk lebih menggiatkan program penghijauan dalam kota," ujarnya.

Sementara itu, anggota DPRD Tanjungpinang Maskur Tilawahyu mengatakan kebersihan itu sebaiknya tidak hanya pada saat penilaian Adipura, tetapi kebersihan yang terpelihara sepanjang tahun.

"Kami mengucapkan selamat, namun kebersihan yang diinginkan masyarakat adalah kebersihan hakiki, bukan hanya saat penilaian Adipura dan juga kebersihan yang dilakukan dinas kebersihan dengan APBD," kata Maskur.

Politisi Partai Demokrat itu bahkan tidak bisa membayangkan kotornya kota yang tidak dapat penghargaan Adipura seperti Tanjungpinang.

"Tanjungpinang saja kotor seperti ini, bagaimana kotornya kota yang tidak dapat Adipura? tanyanya.

Seharuanya menurut dia, Pemkot Tanjungpinang bisa menanamkan kepada masyarakat agar masyarakat juga bisa bertanggungjawab terhadap kebersihan itu.

"Rasa kebersamaan itu sepertinya sudah mulai hilang," ujarnya.

Sementara itu, anggota DPRD Tanjungpinang dari PDI Perjuangan Asep Nana Suryana mengatakan tambal sulam kekumuhan pasar dan kotornya pemukiman padat penduduk di Kota Tanjungpinang merupakan pemandangan yang "congkak" bagi Piala Adipura.

"Tentunya sangat bangga dengan prediket kota terbersih itu, jika sesuai dengan kondisi ril sesuai kriteria tim penilai Adipura, namun jika penilaian itu sebagai tujuan mencari popularitas dalam pengelolaan kebersihan kota, tentu kepuasannya pun hanya semu," kata Asep.

Asep mencontohkan seperti halnya seorang pelajar mendapat angka sembilan karena mencontek. Walaupun ada kepuasan, namun ada sesuatu di balik kepuasan itu.

"Orang tua boleh puas dengan nilai yang diraih jika 'contekan' si anak tidak diketahui," pungkasnya.

Wali Kota Tanjungpinang Suryatati A Manan hari ini di Jakarta menerima langsung penghargaan Adipura itu dari Presiden, selain itu juga menerima penghargaan pasar terbersih kedua se-Indonesia yang diperoleh Pasar Bintan Centre.(KR-HKY/A013)
Editor: Dedi



Pewarta :
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026