
Pemkot Batam temukan 195 kasus malaria selama 2025

Batam (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) mencatat adanya temuan kasus malaria yang cukup signifikan sepanjang Januari-Juni 2025, yakni sebanyak 196 kasus dibanding tahun 2024 sebanyak 69 kasus.
Kepala Dinkes Batam Didi Kusmarjadi mengungkapkan bahwa lonjakan kasus tahun ini sebagian besar terjadi akibat aktivitas pembukaan resor baru di Pulau Galang, yang melibatkan pekerja dari luar daerah.
"Awalnya kasus yang tercatat adalah kasus impor dibawa oleh pekerja dari wilayah endemis. Namun, kemudian berkembang menjadi penularan lokal di kalangan sesama pekerja, yang masuk kategori kasus indigenous,” ujarnya saat dihubungi di Batam, Ahad.
Didi menjelaskan bahwa kasus impor adalah kasus infeksi malaria yang didapat di daerah endemis malaria di luar wilayah Batam. Kemudian, ada kasus introduce, yakni kasus malaria yang terjadi di suatu wilayah yang sebelumnya tidak endemik malaria, tetapi disebabkan oleh infeksi yangg berasal dari individu yang bepergian atau berasal dari daerah endemik.
Ia mengatakan terakhir ada kasus kasus indigenous, yakni malaria yang sumber penularannya berasal dari wilayah setempat.
Di Batam, pada 2021, ditemukan 5 kasus impor, tahun 2022, 14 kasus impor, pada 2023, 17 kasus impor. Selanjutnya, temuan kasus meningkat di 2024, dimana ditemukan 69 kasus (12 impor dan 57 introduce), melonjak signifikan di 2025 dengan 196 kasus indigenous.
Dinkes Batam telah melakukan sejumlah langkah penanganan, seperti larvasida dan fogging di lokasi terdampak, gotong royong pembersihan lingkungan, edukasi dan distribusi kelambu, serta penggunaan insektisida dalam ruangan (IRS).
Didi mengimbau masyarakat untuk aktif dalam pencegahan dengan memakai kelambu antinyamuk, baju lengan panjang, kawat kasa di ventilasi, serta lotion repelan.
“Pengendalian vektor dan lingkungan menjadi kunci utama menekan penyebaran malaria di Batam,” tambahnya.
Pewarta : Amandine Nadja
Editor:
Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
