Logo Header Antaranews Kepri

Produksi Karet Karimun Merosot di Musim Hujan

Senin, 19 November 2012 07:40 WIB
Image Print

Karimun (ANTARA Kepri) - Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, Amran Syahidid mengatakan, musim hujan yang melanda selama sebulan ini mengakibatkan produksi karet petani setempat merosot.

"Harga karet cukup tinggi, berkisar Rp12.000 hingga Rp13.000 per kilogram. Namun, produksi justru merosot akibat musim hujan sehingga petani tidak dapat menjual karet dengan harga yang sedemikian tinggi," katanya di Tanjung Balai Karimun, Minggu.

Amran Syahidid mengatakan, lahan karet yang tidak dapat dipanen secara optimal mencapai ribuan hektare akibat musim hujan yang diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun.

"Petani jangan memaksakan diri untuk 'menoreh' getah karena kualitas panennya juga tidak bagus akibat getah karet bercampur air. Karena itu, kami menganjurkan agar petani mengamati cuaca lebih dulu sebelum melakukan panen, kalau kira-kira panas barulah turun ke kebun," katanya.

Menurut dia, para petani karet di Pulau Kundur yang merupakan sentra perkebunan karet paling merasakan dampak dari musim hujan.

Petani tidak hanya mengeluhkan pohon karet basah terkena air, tetapi sebagian lahan perkebunan karet terendam air akibat tingginya curah hujan.

"Kalau biasanya panen 3 hingga 4 kilogram per hari, maka pada musim hujan bisa merosot menjadi 1 kilogram bahkan tidak ada sama sekali jika hujan mengguyur sepanjang hari," ucapnya.

Meski demikian, petani yang menggarap sekitar 10.000 hektare lahan karet di pulau tersebut sudah terbiasa dengan perubahan cuaca yang sudah menjadi rutinitas setiap tahun.

"Mereka sudah puluhan tahun menjadi petani karet secara turun temurun. Tinggal bagaimana menyiasati dan mempelajari cuaca jika hendak menoreh getah," katanya.

Ahmad, petani karet mengatakan, hasil panen merosot sejak awal November seiring dengan datangnya musim hujan.

"Hujan yang tidak menentu membuat kami gundah untuk menoreh getah. Saat sedang di menakik, tak taunya hujan lebat, akibatnya pohon terkena air dan menggenangi wadah penampung getah. Getah yang biasanya putih kental berubah menjadi cair," katanya.

Menurut Ahmad, getah bercampur air tidak bisa dijual karena sudah rusak. "Penampung tidak bersedia membeli karena kadar susu getahnya berkurang akibat mencair tercampur hujan," tambahnya. (ANTARA)

Editor: Sri Muryono



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026