
Pengajar Muda di Batas Wilayah

GANG kecil sepanjang 200 meter yang jauh dari pusat keramaian di Desa Kampe, Malang Rapat, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, mengakhiri perjalanan 13 aktivis Komunitas Bakti Bangsa.
Pasir putih di halaman depan rumah tua yang dituju mereka menjadi tempat istirahat sementara. Sambutan hangat pemilik rumah pun diberikan kepada para aktivis yang kuliah di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tersebut.
Rumah itu tidak dijadikan sebagai penginapan, melainkan pondok kecil tanpa dinding yang dibangun hanya dapat dipergunakan untuk meletakkan perlengkapan. Langit adalah atap rumah mereka sementara, dan pasir putih sebagai lantai yang akan dipijak selama menjalani Latihan Kader Pengajar Muda I.
Latihan yang dilaksanakan 1-2 Desember 2012 itu sebagai awal dari persiapan mereka untuk mengajar di pulau terdepan di Kepri. Mereka mengatasnamakan diri sebagai pengajar muda Komunitas Bakti Bangsa.
Kekompokan dan semangat yang kuat membuat mereka tidak merasa takut menghadapi berbagai materi yang disajikan berbagai narasumber. Materi yang dijalani adalah manajemen kelas dan teknik mengajar, penguatan sistem keorganisasian, pembangunan karakter pengajar muda, pembangunan jaringan, motivasi, bela negara dan pembangunan keterampilan dan kewirausahaan.
"Tidak ada keraguan. Melainkan tantangan dalam menghadapi materi-materi yang disajikan harus dijawab dengan cerdas," kata Ketua Komunitas Bakti Bangsa Kepri, Adi Putro Prasetyo Utomo.
Pemberi materi tersebut adalah Wakil Ketua DPRD Kepri Ing Iskandarsyah, jurnalis yang juga dosen Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMRAH Trisno Aji Putra, dosen (FKIP UMRAH) yang juga wartawan LKBN ANTARA Nikolas Panama dan Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia Kepri Reni Ardiyani. Latihan kader pengajar muda dilaksanakan mulai Sabtu sore hingga Minggu siang.
Sebelum materi diberikan, pengajar muda melakukan shalat berjamaah di atas pasir dengan beralaskan tikar. Di tepi pantai yang indah itu mereka bermunajat agar latihan dapat dilaksanakan dengan baik.
"Itu adalah shalat berjamaah yang paling indah," kata Adi yang juga mahasiswa semester tujuh Prodi Bahasa Indonesia FKIP UMRAH.
Materi yang diberikan tidak hanya sebatas teori belaka, melainkan beberapa permainan, yang mengharuskan pengajar muda untuk berpikir dan bekerja sama. Berbagai permainan dilaksanakan pada malam hari setelah mereka menerima teori pembangunan karakter pengajar muda, motivasi dan pembangunan jiwa kewirausahaan.
Permainan yang dilakukan, seperti melepaskan tali yang diikat pada dua kelompok pengajar muda, lempar telur dan komunikasi kelompok. Jika mereka tidak kompak, tidak sabar dan mengatur strategi, maka tali yang diikat dipergelangan tangannya tidak akan lepas, melainkan semakin terikat ketat. Dua kelompok yang terdiri dari pengurus Komunitas Bakti Bangsa Kepri dan Tanjungpinang dapat melepaskan tali itu dengan muda.
Kemudian, pengajar muda membentuk lingkaran yang renggang dan melempar telur ke rekannya. Telur itu harus disambut oleh rekannya, karena mereka akan mendapatkan sanksi jika tidak dapat menyambutnya.
Beberapa pengajar muda tidak dapat menyambutnya, karena tidak serius menerima telur mentah yang dilempar oleh rekannya. Akibatnya, kepala mereka dilempar telur, dan tidak boleh dibersihkan.
"Permainan ini bukan permainan biasa, karena menyimpan makna dalam membangun jaringan. Pembangunan jaringan buruh keseriusan kedua belah pihak, ketelitian, semangat dan sinergisitas. Jika tidak, pasti salah satu organisasi kena imbasnya," ungkap Ketua Komunitas Bakti Bangsa Tanjungpinang, Wahyu Dwi Hidayat.
Hujan yang membasahi tubuh pengajar muda tidak menghilangkan semangat mereka untuk mengikuti berbagai materi yang disajikan narasumber. Mereka juga dilatih secara teori maupun praktik untuk membangun semangat kebersamaan di internal organisasi, memperkuat basis siswa yang diajar dan membangun jaringan ke berbagai pihak yang mendukung program yang dilaksanakan.
Pengajar muda juga dilatih untuk membangun proses belajar mengajar yang ramah lingkungan, dan memanfaatkan lingkungan sebagai sarana belajar, tanpa harus mengandalkan kelas.
"Pengajar harus mampu menjadi orang yang disegani, bukan ditakuti oleh siswa yang didiknya agar mudah menyalurkan ilmunya," ujar Trisno Aji, yang bersama rekannya, Nikolas, menulis buku berjudul Menjaga Indonesia Dari Kepri.
Pengajar juga dilatih untuk melihat karakter anak didiknya. Mereka harus mampu memperbaiki kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan oleh anak didiknya, seperti membuang sampah sembarangan, jarang beribadah, tidak menghormati orang yang lebih tua dan tidak mengucapkan salah pada saat masuk ke rumah.
"Jadi tidak hanya ilmu pengetahuan umum yang disalurkan, karena itu bisa didapat di sekolah, melainkan harus dapat membangun semangat belajar kepada anak-anak yang dididik," ujarnya.
Bela Negara
Banyak cara untuk membela negara. Negara memang membutuhkan orang-orang yang peduli terhadap anak bangsa.
Setetes kebaikan yang diberikan untuk kepentingan bangsa sangat berarti, daripada melakukan hal untuk kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan rakyat.
Membela negara tidak harus dengan memegang senjata. Membela negara juga tidak meski ikut-ikutan mencaci maki warga negara asing yang menghina Indonesia.
"Orang yang mudah terprovokasi adalah orang yang tidak memiliki pendirian. Negara tidak membutuhkan orang yang membelanya dengan cara yang tidak benar," kata Nikolas.
Komunitas Bakti Bangsa lahir untuk membela negara dengan caranya sendiri. Meski tanpa bantuan pemerintah, organisasi yang berdiri pada April 2012 telah melaksanakan Gerakan Kepri Mengajar tanpa pamrih memberi pendidikan secara gratis kepada pelajar kurang mampu.
Selama sekitar delapan bulan pengajar muda telah mengorbankan waktu, tenaga dan uang untuk mengajar puluhan pelajar kurang mampu di Tanjung Kapur Bintan dan Kampung Kelam Pagi, Dompak, Tanjungpinang. Mereka tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan umum, melainkan juga membangun semangat belajar, membangun rasa nasionalisme dan membangun moral anak yang didiknya.
"Tanpa disadari, pengajar muda telah melakukan banyak hal untuk membela negaranya. Itulah cara mereka membela negara dengan cara yang cerdas," katanya.
Jalan menuju tempat anak-anak yang dididik bukanlah dekat. Mereka juga harus melewati rintangan, hujan, panas, jalan berlubang, licin dan terkadang terjatuh. Tetapi itu tidak menghentikan langkahnya untuk melihat anak-anak yang dididiknya tersenyum.
Tetesan keringat tidak pernah diharapkan menjadi rupiah. Mereka tetap semangat mengajar, dan terus mendidik anak-anak yang diharapkan kelak menjadi orang yang berhasil.
"Saya sangat suka dengan anak-anak," ujar Riska, Ketua Panitia Latihan Kader Pengajar Muda Komunitas Bakti Bangsa, yang juga mahasiswa semester V FKIP UMRAH.
Mengajar di Perbatasan
Pencanangan Gerakan Ngajar Perbatasan yang dilaksanakan Komunitas Bakti Bangsa akan disejalankan dengan Hari Ulang Tahun ANTARA ke-75 di Nongsa, yang berdekatan dengan Pulau Putri, Batam. Pencanangan Gerakan Ngajar Perbatasan sejalan dengan ANTARA Menanam di perbatasan.
Dua pengajar muda akan dikirim melaksanakan kegiatan tersebut. Kemudian di tahun 2013 bebebrapa pengajar muda akan menetap sementara waktu di Nongsa.
Mereka akan memberi pendidikan gratis kepada anak-anak di Nongsa. Selain memberi pendidikan gratis, mereka juga ditugaskan untuk menyosialisasikan sekaligus mendorong warga sekitar untuk menjaga Pulau Putri, yang berbatasan yang Singapura.
"Pulau itu membutuhkan tangan-tangan ringan untuk menjaganya dari gangguan, ancaman dan sampah-sampah. Pengajar muda akan membangun rasa nasionalisme dan pendidikan kebangsaan kepada warga sekitar," kata Pembina Komunitas Bakti Bangsa Ing Iskandarsyah, yang juga Wakil Ketua DPRD Kepri.
Ia mengemukakan, Kepri dengan luas wilayah 251.810 kilometer persegi, merupakan provinsi yang unik dan menarik, karena luas daratannya hanya sekitar empat persen, sementara sisanya adalah lautan. Dari empat persen daratan itu terdapat 2.408 pulau, namun belakangan, setelah dilakukan identifikasi, jumlah perkiraan pulau di Kepri pun menyusut menjadi 1.795 pulau saja.
Di antara pulau-pulau itu terdapat 19 pulau terdepan yang menyebar dari barat ke timur wilayah Kepri. Pulau terdepan Indonesia yang ada di Kepri itu, menyebar di lima kabupaten/kota yaitu Batam, Bintan, Natuna, Anambas dan Karimun.
Kabupaten Natuna memiliki tujuh pulau terdepan yaitu Pulau Tokong Boro, Pulau Semiun, Pulau Sebetul, Pulau Sekatung, Pulau Senoa (Senua), Pulau Subi Kecil dan Pulau Kepala. Sedangkan Pulau Tokong Malang Biru berada di Kabupaten Kepulauan Anambas, Pulau Damar, Pulau Mangkai, Pulau Tokong Nanas, dan Pulau Tokong Berlayar.
Di Kabupaten Karimun terdapat pulau terdepan yaitu Pulau Karimun Kecil dan Pulau Hiu Kecil. Adapun Pulau Nipa, Pulau Pelampong, Pulau Batu Berhenti, dan Pulau Nongsa terletak di wilayah administrasi Pemerintah Kota Batam.
Kabupaten Bintan hanya memiliki satu pulau terdepan yaitu Pulau Sentut.
Pulau-pulau terdepan itu berhadapan dengan bangunan megah negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Hanya empat dari 19 pulau terdepan di Kepri yang berpenghuni.
"Tidak semua pulau terdepan memiliki kehidupan dan sumber air bersih. Bahkan beberapa pulau hanya berupa batu karang yang menonjol di perairan dan tanah "sejengkal" yang tidak memiliki sumber air tawar serta tanaman," katanya.
Dan, di pulau yang sepi dengan fasilitas seadanya itulah pada pengajar muda tersebut akan menjadi relawan di bidang pendidikan anak bangsa. (ANTARA)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
