
BPS: 131.215 Orang Penduduk Kepri Miskin

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Badan Pusat Statistik mencatat sebanyak 131.215 orang atau 6,83 persen penduduk Provinsi Kepulauan Riau tergolong miskin.
"Jumlah penduduk miskin di Kepulauan Riau (Kepri) pada periode Maret - Sepetember 2012 tidak mengalami penurunan yang berarti, yaitu dari 131.222 orang pada Maret 2012 menjadi 131.215 orang pada September 2012. Berdasarkan persentase penduduk miskin mengalami penurunan sebesar 0,28 persen, yaitu dari 7,11 persen menjadi 6,83 persen pada periode tersebut," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri Badar, di Tanjungpinang, Rabu.
Jumlah penduduk miskin yang tinggal di perkotaan turun sejumlah 1.949 orang, dari 108.526 orang pada Maret 2012 menjadi 106.577 orang pada September 2012. Sementara di perdesaan, penduduk miskin naik sebesar 1.942 orang, dari 22.696 orang pada Maret 2012 menjadi 24.638 orang pada September 2012.
"Garis kemiskinan di Kepri pada periode itu dipengaruhi besar kecilnya jumlah penduduk miskin, karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan," ungkapnya.
Selama Maret 2012-September 2012, garis kemiskinan naik sebesar 1,84 persen, yaitu dari Rp356.873/kapita/bulan pada Maret 2012 menjadi Rp363.450/kapita/bulan pada September 2012. Pada periode yang sama, perkembangan garis kemiskinan daerah perkotaan meningkat 1,66 persen dan di wilayah perdesaan meningkat sebesar 3,27 persen.
Badar mengemukakan, dengan memperhatikan komponen garis kemiskinan yaitu makanan dan bukan makanan, tampak peranan komoditas makanan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditas bukan makanan. Pada September 2012, peranan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan bukan makanan tidak jauh berbeda dengan keadaan Maret 2012.
Sementara pada September 2012, peranan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan sebesar 67,30 persen, sedangkan pada Maret 2012 peranan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan sebesar 67,42 persen.
Di daerah perkotaan, peranan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan terlihat sedikit menurun, yaitu dari 65,94 persen menjadi 65,71 persen. Sedangkan di perdesaan, peranan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan naik dari 75,62 persen menjadi 75,81 persen.
"Komoditas makanan yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras. Pada bulan September 2012, sumbangan pengeluaran beras terhadap Garis Kemiskinan sebesar 28,46 persen di perdesaan dan 27,37 persen di perkotaan," ujarnya.
Selain beras, kata dia, komoditas makanan lain yang berpengaruh cukup besar terhadap garis kemiskinan adalah rokok kretek filter (23,59 persen di perdesaan, 16,67 persen di perkotaan), daging ayam ras (8,76 persen di perkotaan), telur ayam ras (5,67 persen di perdesaan, 5,20 persen di perkotaan), gula pasir (2,65 persen di perkotaan, 7,20 persen di perdesaan, dan mie instan (5,36 persen di perdesaan).
Untuk komoditas bukan makanan, biaya perumahan mempunyai peranan yang cukup besar terhadap garis kemiskinan, yaitu 32,21 persen di perdesaan dan 35,73 persen di perkotaan. Komoditas non-makanan lainnya yang berpengaruh cukup besar pada Garis Kemiskinan antara lain: biaya yang dikeluarkan untuk listrik (6,40 persen di perdesaan, 4,67 persen di perkotaan), bensin (6,80 persen di perdesaan, 9,11 persen di perkotaan), pakaian jadi anak-anak (7,36 persen di perdesaan, 3,24 persen di perkotaan), dan pakaian jadi perempuan dewasa (6,26 persen di perdesaan, 4,79 persen di perkotaan).(*)
Editor: Dedi
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
