Batam (ANTARA) - Kehadiran industri hulu minyak dan gas bumi (migas) di Kepulauan Riau memberikan efek berganda (multiplie effect), tidak hanya bagi angka produksi dan kontribusi pada ketahanan energi nasional tapi juga pertumbuhan ekonomi berbasis energi di wilayah tersebut, utamanya Natuna dan Anambas, serta Kota Batam.
Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas Sumbagut C.W Wicaksono mengatakan multiplier effect ini akan semakin besar dengan beroperasinya proyek-proyek baru sektor industri hulu migas di Kepri.
“Ada optimisme bahwa Natuna dan Anambas, tidak hanya menjadi halaman belakang negara, tetapi juga garda depan pertumbuhan ekonomi berbasis energi,” kata Wicaksono dalam keterangannya diterima di Batam, Kamis.
Dia mengatakan multiplier effect industri hulu migas di Kepri nyata bagi perekonomian dan masyarakat daerah. Di pulau-pulau terdepan seperti Natuna, dan Anambas, hingga pusat industri di Kota Batam.
Menurut dia, industri ini menjadi penggerak denyut pembangunan sekaligus pintu masuk bagi masyarakat lokal untuk memperoleh kesempatan ekonomi yang lebih luas.
Pihaknya mencatat, pertumbuhan ekonomi Kepri dalam beberapa tahun terakhir cukup stabil. Misalnya tahun 2023, ekonomi provinsi ke-32 di Indonesia ini tumbuh 5,20 persen, dan di triwulan pertama 2025 kembali mencatat angka 5,16 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional.
“Di balik capaian tersebut, salah satu faktor pendorong utamanya adalah geliat baru dari sektor hulu migas,” ujarnya.
Menurut dia, sektor ini sempat mengalami kontraksi produksi dalam beberapa tahun terakhir, namun kini kembali bangkit. Dengan beroperasinya Lapangan Forel dan Terubuk yang diresmikan oleh Presiden Prabowo Subiakto secara daring pada 16 Mei 2025 menjadi titik balik yang penting.
Dia menyebut, proyek tersebut menambah kapasitas sekitar 30.000 barel oil equivalent per day (BOEPD) dan menyerap lebih dari 2.300 tenaga kerja, dengan 1.386 di antaranya bekerja di galangan kapal yang menangani fasilitas produksi lepas pantai.
“Fakta ini menegaskan bahwa manfaat migas tidak berhenti di laut, tetapi menjalar ke daratan dalam bentuk lapangan kerja dan geliat industri,” katanya.
Hulu migas dan perekonomian masyarakat
Lebih lanjut Wicaksono mengatakan keterlibatan masyarakat lokal juga semakin besar sejak industri hulu migas di Kepri hadir. Seperti di Anambas, serapan tenaga kerja di perusahaan migas merupakan putra daerah, terutama di posisi operator dan foreman.
Menurut dia, pelibatan ini sangat penting, karena bukan hanya menambah bukan hanya menambah penghasilan rumah tangga, tetapi juga meningkatkan daya beli dan memutar roda perekonomian setempat.
Dampak tidak langsungnya, lanjut dia, dapat dirasakan di warung, penginapan, jasa transportasi, hingga usaha kecil yang melayani kebutuhan proyek migas.
“Inilah efek berganda yang sesungguhnya, ketika satu sektor menggerakkan sektor lain,” kata Wicaksono.
Dia mengungkapkan, efek berganda sektor hulu migas juga tampak dari program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan secara konsisten. Di Natuna dan Anambas, berbagai kegiatan sosial, pendidikan, dan lingkungan dilaksanakan melalui sinergi SKK Migas, KKKS, dan pemerintah daerah.
Contohnya, dukungan bea siswa bagi pelajar berprestasi, program pelatihan keterampilan nelayan, pemberdayaan perempuan melalui kerajinan dan UMKM, hingga bantuan sarana pendidikan dan kesehatan.
Ada pula program peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal, lanjut dia.
Seperti, pelatihan keselamatan kerja migas, pengelasan, dan operator alat berat, agar masyarakat bisa terlibat langsung dalam kegiatan industri.
Khusus di Anambas, kata dia, telah dibentuk forum tanggungjawab sosial dan lingkungan perusahaan (TJSLP) sebagai wadah koordinasi program pertanggungjawaban sosial perusahaan (CSR).
Forum ini, sambungnya, memastikan program yang dijalankan oleh KKKS lebih terarah, tidak tumpang tindih, dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Dia menyebut, beberapa contoh nyata adalah dukungan fasilitas sekolah, penyediaan peralatan kesehatan, bantuan nelayan berupaya kapal dan alat tangkap ramah lingkungan, hingga pelatihan kewirausahaan untuk generasi muda.
“Gubernur Kepri bahkan mengusulkan agar pendidikan migas dimasukkan ke dalam agenda CSR, sehingga anak-anak lokal memiliki kesempatan lebih besar terjun ke industri ini,” ujarnya.
Hulu migas dalam penerimaan keuangan
Efek berganda industri hulu migas, kata Wicaksono, juga berkontribusi bagi daerah dalam bentuk penerimaan keuangan. Seperti di Kabupaten Natuna, rutin menerima Dana Bagi Hasil (DBH) migas yang jumlahnya signifikan.
Pada 2025, alokasi DBH di kabupaten tersebut lebih dari Rp185 miliar, dengan Rp84 miliar di antaranya berasal dari migas.
Wicaksono menyampaikan, dana ini sangat berarti untuk membiayai pembangunan infrakstruktur, pendidikan, hingga layanan kesehatan. Selain itu, tonggak baru diraih ketika BUMD Kepri mendapat Participating Interest (PI) 10 persen dari Blok Northwest Natuna.
“Skema ini memastikan daerah tidak hanya menunggu transfer dari pusat, tapi juga ikut langsung menikmati keuntungan dari eksploitasi sumber daya alamnya,” kata Wicaksono.
Sementara itu, untuk daerah industri Batam, dampak berganda industri hulu migas juga dirasakan. Kota Laluan Madani ini menjadi basis penting industri penunjang migas, mulai dari galangan kapal, hingga pabrik komponen.
Salah satu contohnya adalah pabrik pipa seamless pertama di Indonesia yang berdiri di Batam, mampu memproduksi 30.000 ton pipa per tahun, dengan target naik menjadi 70.000 pada akhir 2025.
Produk ini dipakai langsung dalam kegiatan pengeboran sumur migas di berbagai blok nasional. Di sisi lain, galangan kapal Batam juga menjadi lokasi konversi kapal tanker menjadi FPSO Marline Natuna, yang sepenuhnya dikerjakan oleh tenaga kerja Indonesia.
“Artinya, multiplier effect industri hulu migas bukan hanya menambah produksi energi, tapi juga memperkuat daya saing industri nasional sekaligus menyerap ribuan tenaga kerja lokal,” ujar Wicaksono.
Dia menekankan, multiplier effect hulu migas di Kepri hadir dalam berlapis-lapis bentuk. Di tingkat makro menopang pertumbuhan ekonomi daerah di atas rata-rata nasional, di tingkat fiskal, menambah penerimaan daerah lewat DBH dan PI. Di tingkat sosial, menghadirkan program pemberdayaan masyarakat, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan, serta di tingkat industri memperkuat ekosistem penunjang yang menumbuhkan Batam sebagai pusat fabrifikasi dan manufaktur energi.
Semua efek ini, kata dia, saling terhubung dan menciptakan lingkungan manfaat yang semakin luas.
Wicaksono menambahkan, industri migas Kepri telah membuktikan bahwa bukan sekedar tentang barel minyak atau kubik gas, melainkan tentang kesejahteraan masyarakat, pembangunan daerah, dan kemandirian bangsa.
“Jika dikelola dengan bijak dan berkelanjutan, multiplier effect hulu migas akan terus menjadi positif dari Bumi Segantang Ladang untuk Indonesia,” tutup Wicaksono.

Komentar