Logo Header Antaranews Kepri

Batam Potensial sebagai Kawasan Transit Transpasifik

Jumat, 4 Oktober 2013 16:49 WIB
Image Print

Jakarta (Antara Kepri) - Arus perdagangan trans-Pasifik, khususnya antara China dan negara-negara Eropa membuka peluang Indonesia untuk membangun infrastruktur transportasi darat dan laut di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, yang berdekatan dengan negara-negara ASEAN.

"Salah satu proyek penting dalam ASEAN 'connectivity' adalah pembangunan the Singapore-Kunming Rail Link atau SKRL karena Indonesia bisa mengusahakan pembangunan jaringan infrastruktur kereta yang menghubungkan Singapura dan Jakarta sampai Surabaya," kata peneliti bidang transportasi dan logistik, Universitas Teknologi Delft, Belanda, Ronald Apriliyanto Halim dalam pernyataan yang diterima Antara di Jakarta, Jumat.

Dia menjelaskan proyek SKRL menghubungkan Kunming yakni kota di bagian barat selatan China dengan negara-negara ASEAN sperti Laos, Thailand, Malaysia dan Singapura dengan rute alternatif melalui Vietnam, Kamboja dan Myanmar.

"Jika jaringan kereta di Pulau Jawa dan Sumatera terhubung dengan SKRL maka biaya dan waktu transpor dari Indonesia ke China dan negara-negara ASEAN lainnya akan terminimasi secara signifikan," ujar Ronald.

Namun, jika keterhubungan tidak ada maka Indonesia akan kehilangan banyak kesempatan untuk berperan aktif dalam pasar "transshipment" (pelabuhan transit) khususnya untuk aktivitas pengiriman barang yang diekspor dari China ke negara-negara Eropa. Hal ini dikarenakan ketersediaan moda transportasi kereta dari China yang terhubung langsung ke Singapura sebagai pelabuhan mitra China selama ini.

Ronald menegaskan dalam situasi demikian pembangunan jalur kereta dari Singapura ke Batam merupakan suatu langkah strategis dapat memberikan keuntungan ekonomi untuk Indonesia.

Batam yang berjarak 20 kilometer dari daerah pantai selatan Singapura merupakan area peragangan bebas yang menjadi bagian dari Segitiga Pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Singapura.

"Ini harus dinegosiasikan dengan gigih oleh pemerintah Indonesia dalam ASEAN 'connectivity'," ujarnya.

Dia menambahkan upaya menjadikan Batam sebagai kawasan transit perdagangan trans-Pasifik harus dibarengi dengan usaha untuk membangun pulau tersebut sebagai pulau pelabuhan berskala internasional yang mampu menyediakan akomodasi bagi barang-barang yang akan diekspor Cina ke negara-negara Eropa dan Amerika.

Peluang tersebut lanjut Ronald, semakin terbuka karena kapasitas pelabuhan Singapura yang saat ini bermuatan 24.700 kTEU (satuan setara kilo ton) akan menghadapi tantangan serius untuk menangani kepadatan arus logistik pada 2017 dan seterusnya karena keterbatasan lahan negara tersebut.

"Pada 2030 diperkirakan 90 MTEU (satuan setara juta ton) logistik akan melewati Selat Malaka dan Singapura. Ini benar-benar kesempatan bagi Indonesia," kata Ronald. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026