
Nelayan Kepri Rawan Derita Katarak

Batam (Antara Kepri) - Nelayan di Provinsi Kepulauan Riau rawan terkena derita katarak, karena frekuensi terpapar sinar matahari yang tinggi, kata Manajemen Seksi Penanggulangan Buta Katarak Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia Riko Yuniandri di Batam.
"Paparan sinar matahari yang tinggi merupakan salah satu pemicu katarak," kata Riko Yuniandri disela-sela operasi katarak mata gratis di Batam, Sabtu.
Katarak merupakan penyakit yang sulit dihindari, karena merupakan proses penuaan tubuh. Namun, untuk meminimalkan atau memperlambat prosesnya, maka masyarakat harus menghindari paparan matahari langsung.
Ia mengatakan Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita katarak tertinggi kedua di ASEAN. Jumlah penderitanya mencapai 1,5 persen total pnduduk, atau sekitar 2 juta jiwa.
Seksi Penanggulangan Buta Katarak Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (SPBK Perdami) menghitung, setiap tahun jumlah warga yang terancam kebutaan akibat katarak bertambah 240.000 jiwa.
"Dan sebagian besar penderita katarak adalah berada di daerah miskin dengan konsidi sosial yang lemah sehingga tidak memungkinkan penderitanya melakukan operasi," kata dia.
Di tempat yang sama, Gubernur Kepulauan Riau Muhammad Sani mengatakan sekitar tiga persen penduduknya menderita katarak, dan sebagian besarnya adalah nelayan.
"Paling banyak yang menderita katarak adalah nelayan, karena mereka sering terkena sinar matahari," kata Gubernur.
Karena katarak tidak dapat disembuhkan, pemerintah berharap bantuan dari perusahaan-perusahaan swasta untuk menyalurkan dana tanggung jawab sosialnya kepada penderita katarak agar bisa dioperasi.
Sementara itu, Bank Central Asia (Tbk) melalui Program Bakti BCA membantu biaya operasi katarak untuk 180 warga Kepri, bekerja dama dengan Seksi Penanggulangan Buta Katarak Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia dan Rumah Sakit Awal Bros Batam.
"Ini merupakan wujud komitmen kami membantu mengurangi angka kebutaan karena katarak di Indonesia dan dukungan terhadap program WHO Vision 220," kata Sekretaris BCA, Inge Setiawati di Batam.
Menurut dia, selama ini penderita katarak yang kebanyakan adalah masyarakat kurang mampu kesulitan mendapatkan penanganan karena terbatasnya sarana dan prasarana penanggulangan kebutaan dan gangguan penglihatan.
Ia mengatakan BCA ingin penderita katarak bisa mendapatkan pengobatan layak sehinggga bisa melihat dengan normal lagi.
"Pemberian bantuan merupakan pilar utama Bakti BCA. Ini juga memprtegas komitmen BCA terdahap pelayanan kesehatan di Indonesia," kata dia.
Selain di Batam, BCA juga melakukan operasi katarak gratis kepada 122 orang di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
