Logo Header Antaranews Kepri

Bank Sampah Batam Tekan Volume Lima Persen

Minggu, 28 Juni 2015 18:49 WIB
Image Print
Karena selain untuk menekan volume sampah, tujuan dari bank sampah ini adalah untuk memberdayakan masyarakat dengan memanfaatkan limbah yang bernilai ekonomis

Batam (Antara Kepri) - Program Bank Sampah oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan di Kota Batam Kepulauan Riau mampu menekan volume sampah hingga lima persen dari total limbah sebanyak 800 ton setiap harinya.

"Volume sampah sudah berhasil kami tekan sekitar lima persen melalui program 3R, 'reduce, reuse recycle'," kata Kabid Kebersihan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Batam, Yudi Admaji di Batam, Minggu.

Memang, pengurangan volume sampah melalui bank sampah masih di bawah target Kementerian Lingkungan Hidup sebesar 20 persen. Namun, penurunan jumlah limbah itu relatif tinggi, mengingat program itu baru dijalankan sekitar satu tahun di Batam.

Kini, bank sampah Batam telah memiliki 115 unit yang terdiri dari 105 unit kelompok masyarakat, 10 sekolah.

Total nasabah dari 115 unit bank itu sebanyak 4.153 nasabah, ditambah 103 nasabah individu yang menabung langsung limbah di rumah masing-masing.

Gudang Bank Sampah Batam kini mampu menampung sampah ekonomis rata-rata 30,35 ton per bulan yang berasal dari seluruh unit bank sampah.

Sampah-sampah yang dikumpulkan itu kemudian dilakukan kegiatan pengomposan sampah organik, serta daur ulang menjadi hasil kerajinan yang bernilai.

"Karena selain untuk menekan volume sampah, tujuan dari bank sampah ini adalah untuk memberdayakan masyarakat dengan memanfaatkan limbah yang bernilai ekonomis," tutur Yudi.

Dinas KP mengajak masyarakat, terutama ibu-ibu PKK dan pengajian untuk aktif memanfaatkan sampah ekonomis.

"Ada 20 jenis sampah ekonomis, antara lain kertas dan kaleng. Ibu-ibu hanya mengumpulkan saja, nanti kami dari petugas DKP yang menjemput," ucap dia.

Untuk limbah yang bernilai ekonomis tinggi, DKP membantu menjual langsung ke pabrik-pabrik di sekitar Batam.

Sementara untuk sampah ekonomis lain yang tidak terjual ke pabrik, kemudian diolah dalam bentuk kerajinan tangan. Seperti tas dan bunga yang dikreasikan dari limbah kemasan detergen dan lainnya.

DKP sengaja memanggil instruktur berpengalaman dari Pekanbaru untuk menularkan keahliannya membuat kerajinan tangan dari limbah kemasan.

"Kalau sudah jadi, untuk sementara kami pameran di Dekranasda, tapi ada juga yang dijual sendiri oleh masyarakat," ujar Yudi. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026