Logo Header Antaranews Kepri

BLK Karimun tahun depan mulai dibangun

Jumat, 13 April 2018 21:41 WIB
Image Print
Ilustrasi: Balai Latihan Kerja (antaranews.com)

Karimun (Antaranews Kepri) - Pemerintah Kabupaten Karimun berencana tahun 2019 mulai membangun gedung balai latihan kerja (BLK) dengan anggaran dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.

"Anggarannya diusulkan sekitar Rp15 miliar," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Karimun Hazmi Yuliansyah di Tanjung Balai Karimun, Jumat.

Hazmi Yuliansyah mengatakan, anggaran dari pemerintah provinsi tersebut digunakan untuk pembangunan fisik, sedangkan pengadaan lahannya oleh pemerintah kabupaten.

"Lahannya sudah ada di Kecamatan Tebing. Jadi kita tinggal menunggu pembangunan fisik dari provinsi," kata dia.

Sementara untuk pengadaan peralatan dan sarana prasarana pendukung, menurut dia akan disediakan oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Pemerintah pusat, lanjut dia, baru akan menyediakan peralatan setelah bangunannya selesai, dan pemerintah daerah juga telah menyiapkan tenaga instruktur.

"Ini yang akan kita persiapkan, tenaga instruktur yang tentunya kita awali dengan memberikan pelatihan bagi instruktur yang akan bertugas di BLK itu," ujarnya.

Pembangunan BLK, menurut dia, sudah dalam perencanaan sejak beberapa tahun lalu untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja yang terlatif dan bersertifikasi, khususnya untuk bersaing dalam bursa tenaga kerja di kawasan perdagangan bebas.

Jenis-jenis keahlian yang akan disediakan melalui BLK tersebut, disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan, salah satunya keterampilan mengelas atau welding yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan galangan kapal atau shipyard.

"Intinya, bagaimana tenaga kerja lokal bisa bersaing dengan tenaga kerja dari luar. Dengan dilatih melalui BLK, mereka tentu sudah memiliki sertifikasi dan siap bekerja," ujarnya.

Disinggung serapan tenaga kerja di Karimun, terutama di kawasan perdagangan bebas atau Free Trade Zone (FTZ), Hazmi mengatakan dalam dua tahun terakhir memang terjadi penurunan.

Hal itu disebabkan salah satu perusahaan terbesar di FTZ, PT Saipem Indonesia Karimun Branch, sebuah perusahaan fabrikasi anjungan minyak lepas pantai asal Italia, melakukan pengurangan tenaga kerja, dari sekitar 14.000 pada 2008, menjadi sekitar 250 orang pada tahun ini.

"Saipem sedang tidak ada pekerjaan, sekarang mereka hanya menyelesaikan kontrak proyek Tangguh, sehingga nantinya jumlah tenaga kerja tinggal sekitar 250 orang. Kita berharap pada tahun depan kembali merekrut tenaga kerja," ujarnya.



Pewarta :
Editor: Kabiro kepri
COPYRIGHT © ANTARA 2026