Logo Header Antaranews Kepri

Ekonomi Kepri tumbuh 4,51 persen

Kamis, 30 Agustus 2018 22:47 WIB
Image Print
Kepala Perwakilan BI Kepri, Gusti Raizal Eka Putra. (Antaranews Kepri/Pradanna Putra)
Ia mengatakan dari sisi permintaan pertumbuhan ekonomi triwulan II dipengaruhi perbaikan kinerja investasi bangunan dan nonbangunan yang tumbuh 7,68 persen (yoy).

Batam (Antaranews Kepri) - Bank Indonesia mencatat ekonomi Provinsi Kepulauan Riau tumbuh 4,51 persen pada triwulan II-2018, lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya sebesar 4,47 persen (yoy).

"Angka pertumbuhan itu masih lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi nasional yang tumbuh 5,27 persen (yoy)," kata Kepala Perwakilan BI Kepri, Gusti Raizal Eka Putra di Batam, Kepri, Kamis.

Ia mengatakan dari sisi permintaan pertumbuhan ekonomi triwulan II dipengaruhi perbaikan kinerja investasi bangunan dan nonbangunan yang tumbuh 7,68 persen (yoy).

Investasi bangunan tumbuh menguat sebesar 6,58 persen (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 6,05 persen (yoy). Sedangkan investasi nonbangunan tumbuh sebesar 10,64 persen (yoy), naik signifikan dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 7,65 persen (yoy).

Sementara net ekspor masih mencatatkan kontraksi sebesar 5,72 persen (yoy), lebih baik dibanding triwulan lalu yang terkontraksi 6,65 persen (yoy).

Konsumsi pemerintah tumbuh 16,95 persen (yoy), terutama didorong oleh pemberian Tunjangan Hari Raya (THR).

BI juga mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh melambat namun masih mencatatkan pertumbuhan positif 5,68 persen (yoy) ditopang oleh peningkatan kebutuhan konsumsi selama bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi bersumber dari perbaikan kinerja sektor konstruksi dan perdagangan.

"Sektor kontruksi tumbuh 9,43 persen (yoy) lebih tinggi dibanding triwulan lalu sebesar 5,08 persen (yoy), ditopang oleh proyek pembangunan baik oleh swasta maupun pemerintah," kata dia.

Sektor perdagangan tumbuh 6,56 persen (yoy), naik dibandingkan triwulan lalu 5,84 persen (yoy).

"Peningkatan sektor perdagangan diperkirakan sebagai dampak dari peningkatan permintaan pada Bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri," kata dia.

Sementara itu, pertumbuhan sektor industri pengolahan melambat.

BI juga mencatat sektor industri tumbuh 3,77 persen (yoy) lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya 4,43 persen (yoy).

"Cuti bersama yang cukup panjang dalam rangka Hari Raya Idul Fitri berkontribusi terhadap perlambatan sektor industri pengolahan," kata dia.

Sedangkan sektor pertambangan kembali mengalami kontraksi terutama karena meningkatnya kontraksi lifting gas menjadi sebesar 39,72 persen (yoy) dibandingkan triwulan lalu yang terkontraksi 14,29 persen (yoy). (Antara)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026