BUMN Hadir - Peserta SMN keliling Penyengat kenali budaya Melayu

id SMN 2018,BUMN Hadir,pulau penyengat, SMN Lombok

Para peserta SMN dari NTB saat berada di salah satu situs sejarah pulau Penyengat, Selasa (11/09) (Nurjali)

Hampir setiap situs yang dikunjungi membuat mereka sangat penasaran, dan bertanya langsung kepada penjaga situs sejarah
Tanjungpinang (Antaranews Kepri) - Peserta Siswa Mengenal Nusatara (SMN) dari Nusa Tenggara Barat (NTB) berkeliling pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang sambil menyambangi satu persatu situs sejarah dan budaya Melayu Kerajaan Riau Lingga.

"Pulau Penyengat merupakan ikon dari sejarah dan budaya provinsi Kepulauan Riau, tadi satu persatu kita kenalkan tentang budaya kita disini," kata salah satu pemandu yang disiapkan oleh Pelindo III Asrul kepada Antara, Selasa.

Para peserta sangat menikmati satu persatu jejak sejarah kebudayaan Melayu Kerajaan Riau Lingga. Salah satu ikon yang cukup diminati oleh peserta SMN adalah sosok Raja Ali Haji yang cukup dikenal sebagai bapak dari Bahasa Indonesia. Para peserta juga sempat dikenalkan tempat, atau rumah pertama komunitas bahasa dan sastra Melayu bermula di Indonesia.

Para peserta pada kegiatan hari ini juga didampingi oleh pihak Pelindo I dan LKBN Antara Biro Kepulauan Riau, yang sejak awal telah mendampingi para peserta Siswa Mengenal Nusantara  ini. Perbedaan budaya dan sejarah yang sangat kental, membuat anak-anak dari beberapa kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat ini menjadi sangat penasaran.

Hampir setiap situs yang dikunjungi membuat mereka sangat penasaran, dan bertanya langsung kepada penjaga situs makam-makam keturunan raja-raja atau Sultan di Kerajaan Riau Lingga. Meskipun memiliki kemiripan dalam kepercayaan, namun dari segi kebudayaan dan kondisi geografis Kepulauan Riau tentu sangat jauh berbeda dengan Nusa Tenggara Barat.

"Kami di Lombok sangat berbeda dengan budaya disini, disana banyak daratan kalau disini hampir setiap tempat kami ketemu pantai kalau di NTB tidak mudah mencari pantai," kata salah satu peserta asal Mataram, Sadia.

Meski harus menempuh medan berbukit dengan jalan kaki, namun tidak terlihat wajah lelah para peserta SMN ini, usai melaksanakan shalat di Masjid Sulthan yang sangat bersejarah, para peserta kembali melanjutkan petualangan budaya berkeliling pulau hingga sore hari. 

Para peserta juga sempat membeli berbagai oleh-oleh dan kuliner khas pulau Penyengat untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh sekaligus sebagai kenang-kenangan. (Antara) 
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar