Batam Inflasi 0,09 Persen
Senin, 2 Januari 2012 15:18 WIB
Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Riau mencatat Batam pada Desember 2011 mengalami inflasi sebesar 0,09 persen.
"Kenaikan indeks harga konsumen dari 125,18 pada November 2011 menjadi 125,29 di bulan Desember menyebabkan Batam inflasi 0,09 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik Kepulauan Riau Syafri Said di Tanjungpinang, Senin.
Ia mengatakan, inflasi pada Desember 2011 lebih rendah bila dibandingkan dengan inflasi bulan yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar 0,61 persen.
Perubahan harga pada 67 komoditas menjadi pemicu terjadinya inflasi di Batam pada Desember 2011.
Ia mengatakan, sebanyak 46 komoditas mengalami kenaikan harga, di antaranya cabai merah, beras, rokok kretek filter, tomat, sayur, angkutan udara, sabun detergen bubuk, kol putih, rokok putih, buncis, sawi hijau, cabai hijau, kangkung, gula pasir, cabai rawit, biskuit, dan telur ayam ras.
Sebaliknya, kata dia, tercatat 21 komoditas lainnya mengalami penurunan harga, antara lain daging ayam ras, ikan selar, kacang panjang, emas perhiasan, bayam, kentang, ketimun, jeruk, telepon seluler, anggur, tomat buah, ikan tongkol, dan wortel.
Sementara berdasarkan indeks harga konsumen, inflasi di Batam disebabkan kenaikan harga kelompok bahan makanan 0,19 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,37 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,08 persen, kelompok kesehatan 0,10 persen, serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,06 persen.
"Sebaliknya, kelompok sandang justru mengalami penurunan indeks sebesar 0,63 persen, sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga tidak mengalami perubahan indeks dibanding bulan sebelumnya," katanya.
Laju inflasi tahun kalender (Januari - Desember) 2011 di Kota Batam sebesar 3,76 persen, lebih rendah dibanding periode sama tahun sebelumnya yang mencapai 7,40 persen.
(KR-NP/E005)
"Kenaikan indeks harga konsumen dari 125,18 pada November 2011 menjadi 125,29 di bulan Desember menyebabkan Batam inflasi 0,09 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik Kepulauan Riau Syafri Said di Tanjungpinang, Senin.
Ia mengatakan, inflasi pada Desember 2011 lebih rendah bila dibandingkan dengan inflasi bulan yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar 0,61 persen.
Perubahan harga pada 67 komoditas menjadi pemicu terjadinya inflasi di Batam pada Desember 2011.
Ia mengatakan, sebanyak 46 komoditas mengalami kenaikan harga, di antaranya cabai merah, beras, rokok kretek filter, tomat, sayur, angkutan udara, sabun detergen bubuk, kol putih, rokok putih, buncis, sawi hijau, cabai hijau, kangkung, gula pasir, cabai rawit, biskuit, dan telur ayam ras.
Sebaliknya, kata dia, tercatat 21 komoditas lainnya mengalami penurunan harga, antara lain daging ayam ras, ikan selar, kacang panjang, emas perhiasan, bayam, kentang, ketimun, jeruk, telepon seluler, anggur, tomat buah, ikan tongkol, dan wortel.
Sementara berdasarkan indeks harga konsumen, inflasi di Batam disebabkan kenaikan harga kelompok bahan makanan 0,19 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,37 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,08 persen, kelompok kesehatan 0,10 persen, serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,06 persen.
"Sebaliknya, kelompok sandang justru mengalami penurunan indeks sebesar 0,63 persen, sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga tidak mengalami perubahan indeks dibanding bulan sebelumnya," katanya.
Laju inflasi tahun kalender (Januari - Desember) 2011 di Kota Batam sebesar 3,76 persen, lebih rendah dibanding periode sama tahun sebelumnya yang mencapai 7,40 persen.
(KR-NP/E005)
Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemprov Kepri usul pemisahan komponen pangan dan nonpangan terkait inflasi
10 February 2026 5:11 WIB
TPID Kepri jadi garda terdepan kendalikan inflasi, jaga daya beli masyarakat
14 October 2025 13:50 WIB
BI Kepri terima penghargaan dari Gubernur Ansar atas pengendalian inflasi
25 September 2025 14:54 WIB
Terpopuler - Ekonomi & FTZ
Lihat Juga
Perum Bulog proses pembangunan infrastruktur pascapanen di Natuna perkuat ketahanan pangan
16 February 2026 13:45 WIB