FPSO Marlin Natuna siap berlayar mendukung ketahanan energi nasional
Senin, 30 September 2024 15:42 WIB
Floating Storage Production and Offloading (FPSO) Marlin Natuna. ANTARA/Benardy Ferdiansyah
Batam, Kepulauan Riau (ANTARA) - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Medco E&P Natuna Ltd. (Medco E&P) menyatakan Floating Storage Production and Offloading (FPSO) Marlin Natuna siap berlayar guna mendukung ketahanan energi nasional.
Marlin Natuna merupakan proyek konversi kapal tanker pertama menjadi FPSO di Indonesia. FPSO Marlin Natuna yang memiliki kapasitas produksi 250.000 barel itu akan menampung minyak bumi dari proyek Forel di Natuna, Kepulauan Riau (Kepri). Proyek Forel merupakan proyek minyak terbesar yang akan onstream di 2024 dengan perkiraan produksi sebesar 10.000 barel minyak per hari (BOPD).
"Saya bilang masterpiece karena memang ini yang pertama di Indonesia yang merupakan karya kita semua dan tentunya yang saya banggakan jajaran manajemen dari SKK Migas. Sail away (berlayar) ini bukan akhir, bukan ujung dari proyek pengembangan lapangan ini, tetapi memang bagian-bagian akhir di mana masih ada pekerjaan besar terkait dengan integrasi nanti dilakukan di Lapangan Natuna," kata Deputi Eksploitasi SKK Migas Wahju Wibowo melalui tayangan video dari Jakarta saat acaraThe Sail Away Ceremony of Indonesia 1st FPSO Conversion Project FPSO Marlin Natuna.
Acara itu dilakukan di Kantor Pusat Medco E&P, Jakarta dan PaxOcean Pertama Shipyard, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Senin.
Seremoni FPSO Marlin Natuna tersebut dihadiri oleh jajaran SKK Migas, Medco E&P, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kepri, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Khusus Kepri serta PT Hanochem Tiaka Samudera dan PT PaxOcean Batam yang menjadi pihak ketiga dalam pengerjaan proyek.
Wahju menjelaskan proyek Forel mencakup dua pekerjaan besar. Pertama, yaitu proyek pembangunan FPSO Marlin Natuna. Kedua ialah pembangunan rangkaian fasilitas produksi, di antaranya satu anjungan wellhead platform Forel yang akan digunakan untuk lima sumur produksi, satu sumur injeksi gas, dan dua sumur tambahan untuk produksi di masa depan.
Selanjutnya, satu anjungan wellhead platform Bronang untuk satu sumur produksi dan dua sumur cadangan.
Ia mengungkapkan fasilitas wellhead platform Forel, wellhead platform Bronang, dan instalasi pipa bawah laut tersebut sudah selesai dan menunggu FPSO Marlin Natuna untuk berlayar ke Laut Natuna dan dilanjutkan dengan tahapan integrated commissioning dari seluruh fasilitas produksi proyek Forel-Bronang.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: FPSO Marlin Natuna siap berlayar dukung ketahanan energi nasional
Marlin Natuna merupakan proyek konversi kapal tanker pertama menjadi FPSO di Indonesia. FPSO Marlin Natuna yang memiliki kapasitas produksi 250.000 barel itu akan menampung minyak bumi dari proyek Forel di Natuna, Kepulauan Riau (Kepri). Proyek Forel merupakan proyek minyak terbesar yang akan onstream di 2024 dengan perkiraan produksi sebesar 10.000 barel minyak per hari (BOPD).
"Saya bilang masterpiece karena memang ini yang pertama di Indonesia yang merupakan karya kita semua dan tentunya yang saya banggakan jajaran manajemen dari SKK Migas. Sail away (berlayar) ini bukan akhir, bukan ujung dari proyek pengembangan lapangan ini, tetapi memang bagian-bagian akhir di mana masih ada pekerjaan besar terkait dengan integrasi nanti dilakukan di Lapangan Natuna," kata Deputi Eksploitasi SKK Migas Wahju Wibowo melalui tayangan video dari Jakarta saat acaraThe Sail Away Ceremony of Indonesia 1st FPSO Conversion Project FPSO Marlin Natuna.
Acara itu dilakukan di Kantor Pusat Medco E&P, Jakarta dan PaxOcean Pertama Shipyard, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Senin.
Seremoni FPSO Marlin Natuna tersebut dihadiri oleh jajaran SKK Migas, Medco E&P, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kepri, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Khusus Kepri serta PT Hanochem Tiaka Samudera dan PT PaxOcean Batam yang menjadi pihak ketiga dalam pengerjaan proyek.
Wahju menjelaskan proyek Forel mencakup dua pekerjaan besar. Pertama, yaitu proyek pembangunan FPSO Marlin Natuna. Kedua ialah pembangunan rangkaian fasilitas produksi, di antaranya satu anjungan wellhead platform Forel yang akan digunakan untuk lima sumur produksi, satu sumur injeksi gas, dan dua sumur tambahan untuk produksi di masa depan.
Selanjutnya, satu anjungan wellhead platform Bronang untuk satu sumur produksi dan dua sumur cadangan.
Ia mengungkapkan fasilitas wellhead platform Forel, wellhead platform Bronang, dan instalasi pipa bawah laut tersebut sudah selesai dan menunggu FPSO Marlin Natuna untuk berlayar ke Laut Natuna dan dilanjutkan dengan tahapan integrated commissioning dari seluruh fasilitas produksi proyek Forel-Bronang.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: FPSO Marlin Natuna siap berlayar dukung ketahanan energi nasional
Pewarta : Benardy Ferdiansyah
Editor : Angiela Chantiequ
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Ketua Komisi XII DPR: Industri hulu migas di Batam memiliki daya saing tinggi
05 February 2026 15:08 WIB
SKK Migas Sumbagut komitmen berikan manfaat ganda bagi masyarakat di daerah
20 September 2025 7:22 WIB
SKK Migas dan Medco tambah produksi lapangan Terubuk di Kepri jadi 6.600 BOPD
29 July 2025 17:19 WIB
Terpopuler - Hukum
Lihat Juga
Brigadir Rizka terungkap lakukan penganiayaan terhadap Brigadir Esco hingga tewas
10 February 2026 15:30 WIB
Bareskrim Polri tahan 2 petinggi Dana Syariah Indonesia dalam kasus dugaan pencucian uang
10 February 2026 11:09 WIB
Kejari Batam kembalikan berkas perkara kecelakaan kerja PT ASL ke Polresta Barelang
10 February 2026 10:29 WIB