Karimun (ANTARA Kepri) - Dewan Pimpinan Daerah Laskar Melayu Bersatu Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, menyatakan pengelolaan air bersih jangan berorientasi bisnis dengan memberlakukan tarif air yang memberatkan konsumen.

"Kerja sama Perusda dengan PT Petromas Wingstar dalam membangun instalasi air bersih di Pulau Karimun Besar sangat bagus jika berkaitan dengan pengembangan investasi," kata Ketua DPD LMB Karimun Datuk Panglima Muda Azman Zainal di Tanjung Balai Karimun, Kamis.

Namun, lanjut dia, kerja sama itu bisa berdampak pada kenaikan tarif air yang memberatkan warga mengingat perusahaan swasta lebih berorientasi pada bisnis daripada sosial.

PT Petromas Wingstar menanamkan modalnya sebesar Rp500 miliar untuk membangun instalasi air bersih di Danau Sentani, Tanjung Balai Karimun.

Pembangunan instalasi air bersih itu diresmikan oleh Bupati Karimun Nurdin Basirun yang ditandai dengan peletakan batu pertama pada hari Rabu (28/3).

Menurut Azman, pengelolaan air bersih seyogianya oleh badan usaha milik daerah yang berdiri sendiri, tidak perusda yang memiliki beberapa unit usaha. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan pelayanan air bersih kepada warga.

"Perusahaan air bersih yang didirikan pemerintah daerah itu harus mengedepankan kepentingan sosial, berbeda dengan pengelolaan pasar atau BBM. Kalaupun dikerjasamakan dengan swasta, jangan sampai terjadi kenaikan tarif air yang cukup besar," ucapnya.

Ketua LSM Air Lingkungan dan Manusia (ALIM) Provinsi Kepulauan Riau Kherjuli mengatakan bahwa pengelolaan sumber daya air dengan mengedepankan kepentingan sosial merupakan amanat UUD 1945.

"Sumber daya air merupakan hajat hidup orang banyak yang dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat. Sewajarnya pengadaan air bersih diselenggarakan oleh perusahaan air minum, bukan swasta," katanya.

Ia mengatakan bahwa pengadaan air bersih di Karimun, khususnya di Pulau Karimun Besar, masih belum maksimal. Warga belum dapat menikmati air bersih.

Sebagian warga mengandalkan lori-lori (truk) air yang berkeliling ke pemukiman untuk menjual air yang mereka beli dari sumur bor atau dari danau bekas galian penambangan timah.

"Kerja sama dengan pihak swasta memang dapat memaksimalkan distribusi air bersih kepada seluruh warga. Akan tetapi, kalau tarifnya tinggi, akan menyulitkan warga miskin. Air bukan hanya kebutuhan orang kaya, melainkan kebutuhan seluruh umat manusia," katanya.

(KR-RDT/D007)