Natuna (ANTARA) - Perum Bulog menyiapkan sebanyak 1.300 ton beras medium di wilayah Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, guna mendukung berbagai program pemerintah, khususnya yang menyangkut ketahanan pangan dan perlindungan sosial bagi masyarakat perbatasan.

Pemimpin Bulog Cabang Natuna Delly Bayu Putra, dikonfirmasi dari Natuna, Rabu, mengatakan stok beras tersebut saat ini tersebar di dua gudang milik Bulog yang ada di wilayah Natuna.

"Sebanyak 870 ton disimpan di Gudang Bulog Ranai, Kecamatan Bunguran Timur, dan sekitar 430 ton berada di Gudang Bulog Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat. Totalnya sekitar 1.300 ton," ujar dia.

Stok yang tersedia merupakan bagian dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang disiapkan sebagai bentuk antisipasi terhadap berbagai kebutuhan strategis.

CBP ini, menurut Delly, dapat digunakan untuk mendukung dua program utama pemerintah yang saat ini sedang berjalan, yaitu program bantuan pangan dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

"Beras disiagakan dalam rangka menjaga stabilisasi harga dan juga pasokan pangan di Natuna," katanya pula.

Untuk program SPHP, Bulog menyalurkan beras medium kepada pedagang yang telah menjadi mitra resmi. Beras kemudian dijual langsung ke masyarakat dengan harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah guna menjaga kestabilan pasar.

Baca juga: RSUD Natuna buka layanan spesialis bedah tulang dan traumatologi

"Beras SPHP ini dikemas dalam ukuran lima kilogram, dan dijual seharga maksimal Rp65.500 per kemasan. Masyarakat bisa membelinya melalui toko-toko mitra Bulog yang tersebar di pasar rakyat serta outlet resmi yang ada di area Gudang Bulog Ranai," ujar dia.

Delly menegaskan Bulog Natuna terus berkomitmen menjaga ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga pangan, terutama beras, sebagai kebutuhan pokok masyarakat.

Kesiapan stok ini juga menjadi bagian dari langkah strategis untuk menghadapi potensi gejolak pangan, baik karena faktor cuaca, distribusi, maupun dampak ekonomi lainnya.

"Natuna ini daerah kepulauan dan perbatasan. Maka keberadaan CBP yang memadai penting untuk memastikan tidak ada kekosongan pasokan," ujar dia.

Selain itu, menurutnya lagi, Bulog juga terus memantau pergerakan stok dan penyaluran di lapangan, serta menjalin koordinasi aktif dengan pemerintah daerah dan instansi terkait, agar program bantuan pangan dan SPHP dapat berjalan optimal dan tepat sasaran.

"Pembelian beras SPHP diatur secara ketat. Setiap toko wajib mencatat penjualan melalui aplikasi. Masyarakat hanya diperbolehkan membeli maksimal dua kemasan per transaksi, sementara toko dibatasi maksimal dua ton per pembelian dan hanya bisa membeli kembali ke Bulog jika stok menipis berdasarkan laporan aplikasi," kata dia pula.

Baca juga: Bulog Natuna buka "outlet" penjualan Beras SPHP untuk masyarakat

Baca juga: Basarnas Natuna latihan penyelamatan korban di permukaan air


Pewarta : Muhamad Nurman
Editor : Nadilla
Copyright © ANTARA 2026