Faisal Basri: FTZ Batam Mengecewakan
Selasa, 11 Februari 2014 18:57 WIB
Pengamat ekonomi Faisal Basri (antaranews.com)
Batam (Antara Kepri) - Pengamat ekonomi Faisal Basri menilai pelaksanaan Kawasan Perdagangan Bebas Batam, Bintan dan Karimun di Provinsi Kepulauan Riau mengecewakan, karena pertumbuhan ekonominya justru didukung sektor konsumsi, dengan nilai ekspor lebih rendah dibanding impor.
"Kok keterbukaan Kepri jadi seperti ini. Seharusnya pertumbuhan ekspor lebih dari impor," kata Faisal Basri usai Seminar Nasional Pemberdayaan UMKM Sektor Kelautan dan Perikanan dengan Pendekatan Ekonomi Biru di Batam, Selasa.
Dari data Bank Indonesia, ia menyebutkan nilai ekspor di Kepri minus, menandakan lebih besar impor ketimbang ekspor. Padahal, awalnya Kepri diharapkan dapat menjadi pusat industri yang hasilnya diekspor ke luar negeri.
Kepri hanya menjadi industri "tukang jahit", hampir seluruh komponen produksinya diimpor dari luar, kemudian dirakit di Batam, lalu diekspor kembali, sehingga nilai impor lebih tinggi ketimbang ekspor.
Selain itu, berbagai kebebasan pajak impor yang diminta oleh pemerintah Kepri dan Dewan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan dan Karimun justru mendorong masyarakat lebih konsumtif.
"Kepri minta KEK (kawasan ekonomi khusus-red) buat senang-senang. Bukan buat produksi, tapi konsumsi. Dosa kalau gitu," kata dia.
Masih dari data BI, ia menyebutkan pertumbuhan konsumsi di Kepri di atas 10 persen, di atas pertumbuhan konsumsi nasional yang hanya sekitar lima persen tiap tahun.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Kepri yang di atas laju ekonomi nasional juga disebabkan dari faktor konsumsi, bukan produksi.
"Kepri sudah seperti China, di dunia ini, pertumbuhan konsumsi yang di atas 10 persen hanya China dan Kepri," kata dia.
Secara investasi, ia mengatakan sepanjang 2013, pertumbuhan ekonomi di Kepri tidak tumbuh. 'Investasi PMA flat'," kata dia.
Sementara untuk mengembalikan perekonomian FTZ Batam kembali sesuai yang diharapkan, ia mengatakan pemerintah sebaiknya fokus pada kelebihan-kelebihan Batam, seperti lokasinya yang strategis dan kekuatan maritimnya.
"Batam sangat menarik karena lokasinya dekat dengan Singapura, manfaatkan apa yang dibutuhkan Singapura," kata dia.
Untuk Kepri, kata dia, harus dikembalikan ke jati dirinya, sebagai provinsi kepulauan yang berada terdepan, paling dekat pusat perekonomian dunia seperti Singapura dan China. "Penetrasi ekspor, andalkan kelautan," kata dia. (Antara)
Editor: Rusdianto
"Kok keterbukaan Kepri jadi seperti ini. Seharusnya pertumbuhan ekspor lebih dari impor," kata Faisal Basri usai Seminar Nasional Pemberdayaan UMKM Sektor Kelautan dan Perikanan dengan Pendekatan Ekonomi Biru di Batam, Selasa.
Dari data Bank Indonesia, ia menyebutkan nilai ekspor di Kepri minus, menandakan lebih besar impor ketimbang ekspor. Padahal, awalnya Kepri diharapkan dapat menjadi pusat industri yang hasilnya diekspor ke luar negeri.
Kepri hanya menjadi industri "tukang jahit", hampir seluruh komponen produksinya diimpor dari luar, kemudian dirakit di Batam, lalu diekspor kembali, sehingga nilai impor lebih tinggi ketimbang ekspor.
Selain itu, berbagai kebebasan pajak impor yang diminta oleh pemerintah Kepri dan Dewan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan dan Karimun justru mendorong masyarakat lebih konsumtif.
"Kepri minta KEK (kawasan ekonomi khusus-red) buat senang-senang. Bukan buat produksi, tapi konsumsi. Dosa kalau gitu," kata dia.
Masih dari data BI, ia menyebutkan pertumbuhan konsumsi di Kepri di atas 10 persen, di atas pertumbuhan konsumsi nasional yang hanya sekitar lima persen tiap tahun.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Kepri yang di atas laju ekonomi nasional juga disebabkan dari faktor konsumsi, bukan produksi.
"Kepri sudah seperti China, di dunia ini, pertumbuhan konsumsi yang di atas 10 persen hanya China dan Kepri," kata dia.
Secara investasi, ia mengatakan sepanjang 2013, pertumbuhan ekonomi di Kepri tidak tumbuh. 'Investasi PMA flat'," kata dia.
Sementara untuk mengembalikan perekonomian FTZ Batam kembali sesuai yang diharapkan, ia mengatakan pemerintah sebaiknya fokus pada kelebihan-kelebihan Batam, seperti lokasinya yang strategis dan kekuatan maritimnya.
"Batam sangat menarik karena lokasinya dekat dengan Singapura, manfaatkan apa yang dibutuhkan Singapura," kata dia.
Untuk Kepri, kata dia, harus dikembalikan ke jati dirinya, sebagai provinsi kepulauan yang berada terdepan, paling dekat pusat perekonomian dunia seperti Singapura dan China. "Penetrasi ekspor, andalkan kelautan," kata dia. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor : Jo Seng Bie
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kisah pengabdian dan dedikasi Aipda Raja Faisal di wilayah perbatasan NKRI
28 February 2026 13:10 WIB
Berdedikasi jadi relawan sopir jenazah, Aipda Raja Faisal terima penghargaan dari Kapolda Kepri
19 February 2026 12:25 WIB
Mengenang Faisal Basri, Luhut: Saya selalu hargai pemikiran dan argumen Beliau
05 September 2024 11:06 WIB, 2024
Begini jawaban Sri Mulyani soal isu dirinya mundur dari Kabinet Jokowi
19 January 2024 12:13 WIB, 2024
DPRD Kepri sarankan Pulau Kasu ditetapkan menjadi kawasan darurat bencana
07 July 2023 20:45 WIB, 2023
Terpopuler - Ekonomi & FTZ
Lihat Juga
Kemnaker: Seleksi Pelatihan Vokasi Nasional Tahap 5 berlangsung hingga 23 September
18 September 2026 8:51 WIB
PGN Batam perkuat edukasi jaringan gas capai target 34 ribu sambungan rumah tangga
17 September 2026 14:40 WIB
IHSG hari ini menguat seiring kenaikan bunga The Fed sudah di "priced in" pasar
17 September 2026 10:12 WIB