Pengamat: Lis-Maya Bukan Pasangan Yang "Menakutkan"
Senin, 2 Oktober 2017 16:18 WIB
Tanjungpinang (Antara Kepri) - Lis Darmansyah, bakal calon Wali Kota Tanjungpinang, yang digadang-gadang berduet dengan Maya Suryanti bukan pasangan yang "menakutkan", kata pengamat politik dari Universitas Maritim Raja Ali Haji, Bismar Arianto.
"Biasa-biasa saja, karena Maya baru muncul sekarang setelah kalah pada Pilkada Tanjungpinang tahun 2013," ujarnya di Tanjungpinang, Minggu.
Berdasarkan catatan Antara, Lis Darmansyah dan Maya merupakan lawan politik pada Pilkada Tanjungpinang 2013. KPU Tanjungpinang menetapkan pasangan nomor urut 2 Lis Darmansyah-Syahrul menang dengan perolehan suara sebanyak 39.129 suara atau 46,01 persen, sedangkan pasangan nomor urut 1 Maya Suryanti-Tengku Dahlan berada di urutan kedua dengan perolehan 26.616 suara atau 31,30 persen.
Kemudian pasangan nomor urut 4 Husnizar Hood-Rudy Chua memperoleh 13.838 suara atau 16,27 persen dan pasangan nomor urut 3 Hendry Frankim-Yusrizal memperoleh 5.459 suara atau sebesar 6,42 persen.
"Pilihan politik itu selalu mengejutkan, tetapi Lis tampak cerdas memilih pasangan pada Pilkada Tanjungpinang 2018. Pasangan ini akan memperluas dukungan terhadap mereka," ucap Bismar.
Secara politik, Maya merupakan pendatang baru, yang sehari-hari sibuk mengurusi usahanya, sama seperti pada Pilkada Tanjungpinang tahun 2013. Namun pengaruh mantan Wali Kota Tanjungpinang Suryatati A Manan membuat cepat populer dan memperoleh suara yang cukup besar pada pilkada tahun 2013.
"Kekuatan politik seorang Maya mungkin biasa-biasa saja, namun yang luar biasa itu jika kekuatan politik mantan Wali Kota Tanjungpinang Suryatati A Manan membayang-bayanginya. Apakah Suryatati mampu membangkitkan nostalgia lama kepada pendukungnya pada saat masih berkuasa ?" ujar dia.
Bismar mengemukakan pengalaman politik dalam sejumlah Pilkada, termasuk di Tanjungpinang sebenarnya dapat dijadikan pelajaran bagi semua pihak yang berkepentingan terhadap pesta demokrasi serentak tahun 2018. Hasil pilkada ternyata tidak selalu berpihak kepada calon petahana.
Saat Lis Darmansyah-Syahrul melawan Maya-Tengku Dahlan, kata dia, ternyata hasilnya Lis-Syahrul memperoleh suara terbanyak. Perolehan suara pasangan calon pada pikada di DKI Jakarta juga mengejutkan, calon petahana kalah melawan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
"Terlepas siapa yang menang atau kalah dalam pilkada mendatang, yang terpenting adalah bagaimana pesta demokrasi membawa pada perubahan yang lebih baik, dan memberi pendidikan politik yang positif kepada masyarakat," katanya.(Antara)
Editor: Dedi
"Biasa-biasa saja, karena Maya baru muncul sekarang setelah kalah pada Pilkada Tanjungpinang tahun 2013," ujarnya di Tanjungpinang, Minggu.
Berdasarkan catatan Antara, Lis Darmansyah dan Maya merupakan lawan politik pada Pilkada Tanjungpinang 2013. KPU Tanjungpinang menetapkan pasangan nomor urut 2 Lis Darmansyah-Syahrul menang dengan perolehan suara sebanyak 39.129 suara atau 46,01 persen, sedangkan pasangan nomor urut 1 Maya Suryanti-Tengku Dahlan berada di urutan kedua dengan perolehan 26.616 suara atau 31,30 persen.
Kemudian pasangan nomor urut 4 Husnizar Hood-Rudy Chua memperoleh 13.838 suara atau 16,27 persen dan pasangan nomor urut 3 Hendry Frankim-Yusrizal memperoleh 5.459 suara atau sebesar 6,42 persen.
"Pilihan politik itu selalu mengejutkan, tetapi Lis tampak cerdas memilih pasangan pada Pilkada Tanjungpinang 2018. Pasangan ini akan memperluas dukungan terhadap mereka," ucap Bismar.
Secara politik, Maya merupakan pendatang baru, yang sehari-hari sibuk mengurusi usahanya, sama seperti pada Pilkada Tanjungpinang tahun 2013. Namun pengaruh mantan Wali Kota Tanjungpinang Suryatati A Manan membuat cepat populer dan memperoleh suara yang cukup besar pada pilkada tahun 2013.
"Kekuatan politik seorang Maya mungkin biasa-biasa saja, namun yang luar biasa itu jika kekuatan politik mantan Wali Kota Tanjungpinang Suryatati A Manan membayang-bayanginya. Apakah Suryatati mampu membangkitkan nostalgia lama kepada pendukungnya pada saat masih berkuasa ?" ujar dia.
Bismar mengemukakan pengalaman politik dalam sejumlah Pilkada, termasuk di Tanjungpinang sebenarnya dapat dijadikan pelajaran bagi semua pihak yang berkepentingan terhadap pesta demokrasi serentak tahun 2018. Hasil pilkada ternyata tidak selalu berpihak kepada calon petahana.
Saat Lis Darmansyah-Syahrul melawan Maya-Tengku Dahlan, kata dia, ternyata hasilnya Lis-Syahrul memperoleh suara terbanyak. Perolehan suara pasangan calon pada pikada di DKI Jakarta juga mengejutkan, calon petahana kalah melawan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
"Terlepas siapa yang menang atau kalah dalam pilkada mendatang, yang terpenting adalah bagaimana pesta demokrasi membawa pada perubahan yang lebih baik, dan memberi pendidikan politik yang positif kepada masyarakat," katanya.(Antara)
Editor: Dedi
Pewarta : Niko Panama
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Ekonom Batam: BI Rate turun dorong tingkatkan ekonomi daerah-sektor riil
18 September 2025 13:04 WIB
Pengamat: Pemerintah kota harus menonjolkan keunikan Imlek khas Batam
29 January 2025 10:57 WIB, 2025
Pakar Pidana: Pengembalian uang korupsi tidak boleh hapus tuntutan pidana
30 December 2024 5:47 WIB, 2024
Pengamat beri usul pemerintah buka sekolah calon pengemudi angkutan umum
15 November 2024 15:36 WIB, 2024