Pengamat : Mayoritas parpol di Provinsi Kepri alami krisis kader
Rabu, 12 Februari 2020 13:17 WIB
Pengamat Politik Provinsi Kepri, Zamzami A Karim. (ANTARA/Ogen)
Tanjungpinang (ANTARA) (ANTARA) - Pengamat Politik Provinsi Kepri, Zamzami A Karim menilai mayoritas partai politik di daerah tersebut krisis kader untuk diusung pada Pilgub Kepri 2020, sehingga masih mengandalkan nama-nama lama yang sudah tak asing lagi di telinga masyarakat.
Zamzami mencontohkan, PDI Perjuangan yang sampai saat ini masih memprioritaskan sosok Soerya Respationo selalu Ketua DPD PDI Perjuangan Kepri, sekaligus mantan Wakil Gubernur Kepri periode 2010-2015.
Begitu pula Partai Golkar yang bertumpu kepada Ansar Ahmad sebagai Ketua DPD Golkar Kepri yang kini menjabat anggota DPR RI periode 2019-2024.
"Baik PDI Perjuangan maupun Golkar sama-sama belum berani membuka peluang terhadap kader-kader lainnya," kata Zamzami, Rabu (12/2).
Sementara untuk Partai Gerindra, lanjut Zamzami, tidak punya kader kuat. Kemudian Partai NasDem juga kehabisan kader.
"Muhammad Rudi (Nasdem), saya rasa masih bertarung di Pilwako Batam 2020. Lalu, Apri Sujadi (Demokrat) sepertinya juga bertahan untuk Pilbup Bintan 2020," ujarnya.
Dosen Stisipol Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang itu pun meluapkan kekecawaannya, karena sejak awal partai politik di Kepri tidak menyiapkan kader-kader baru dan tidak berani mengusung kadernya.
"Akhirnya banyak yang jualan partai untuk orang. Ini disebut politik kartel," tuturnya.
Disinggung mengenai nama-nama yang akan maju pada Pilgub Kepri 2020. Zamzami menyebut, sampai sejauh paling tidak sudah ada empat nama yang sudah menunjukkan keseriusannya.
"Soerya Respationo, Isdianto, Ismeth Abdullah dan Huzrin Hood. Itu tadi masih dengan nama-nama lama," imbuhnya.
Dia mengatakan, untuk Ismeth dan Huzrin, keduanya mengandalkan romantisme. Ismeth muncul karena orang merindukan tentang masa lalunya. Pada kejayaannya sebagai sosok manajerial yang pernah membangun Kepri pada masa-masa awal terbentuk.
Sedangkan Huzrin yang dikenal tokoh perjuangan Kepri, juga merupakan "solidarity maker" yakni, seorang yang membangun solidaritas antar kelompok dan membangun semangat kebersamaan.
"Dua sosok ini bisa diperhitungkan karena orang merindukan masa lalu. Memang saat ini belum terlalu gembar-gembor soal calon yang serius, namun saya rasa di akhir Februari ini mulai ramainya," sebut Zamzami.
Zamzami mencontohkan, PDI Perjuangan yang sampai saat ini masih memprioritaskan sosok Soerya Respationo selalu Ketua DPD PDI Perjuangan Kepri, sekaligus mantan Wakil Gubernur Kepri periode 2010-2015.
Begitu pula Partai Golkar yang bertumpu kepada Ansar Ahmad sebagai Ketua DPD Golkar Kepri yang kini menjabat anggota DPR RI periode 2019-2024.
"Baik PDI Perjuangan maupun Golkar sama-sama belum berani membuka peluang terhadap kader-kader lainnya," kata Zamzami, Rabu (12/2).
Sementara untuk Partai Gerindra, lanjut Zamzami, tidak punya kader kuat. Kemudian Partai NasDem juga kehabisan kader.
"Muhammad Rudi (Nasdem), saya rasa masih bertarung di Pilwako Batam 2020. Lalu, Apri Sujadi (Demokrat) sepertinya juga bertahan untuk Pilbup Bintan 2020," ujarnya.
Dosen Stisipol Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang itu pun meluapkan kekecawaannya, karena sejak awal partai politik di Kepri tidak menyiapkan kader-kader baru dan tidak berani mengusung kadernya.
"Akhirnya banyak yang jualan partai untuk orang. Ini disebut politik kartel," tuturnya.
Disinggung mengenai nama-nama yang akan maju pada Pilgub Kepri 2020. Zamzami menyebut, sampai sejauh paling tidak sudah ada empat nama yang sudah menunjukkan keseriusannya.
"Soerya Respationo, Isdianto, Ismeth Abdullah dan Huzrin Hood. Itu tadi masih dengan nama-nama lama," imbuhnya.
Dia mengatakan, untuk Ismeth dan Huzrin, keduanya mengandalkan romantisme. Ismeth muncul karena orang merindukan tentang masa lalunya. Pada kejayaannya sebagai sosok manajerial yang pernah membangun Kepri pada masa-masa awal terbentuk.
Sedangkan Huzrin yang dikenal tokoh perjuangan Kepri, juga merupakan "solidarity maker" yakni, seorang yang membangun solidaritas antar kelompok dan membangun semangat kebersamaan.
"Dua sosok ini bisa diperhitungkan karena orang merindukan masa lalu. Memang saat ini belum terlalu gembar-gembor soal calon yang serius, namun saya rasa di akhir Februari ini mulai ramainya," sebut Zamzami.
Pewarta : Ogen
Editor : Rusdianto Syafruddin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Prabowo nyatakan Indonesia siap ekspor beras di tengah ancaman krisis pangan
24 September 2025 6:00 WIB
Krisis energi, dokter di jalur Gaza terpaksa rawat empat bayi dalam satu inkubator
23 July 2025 10:03 WIB
Terpopuler - Politik
Lihat Juga
Ketua Komisi XII DPR: Industri hulu migas di Batam memiliki daya saing tinggi
05 February 2026 15:08 WIB
Indonesia berpartisipasi dalam Latihan militer di Pakistan yang diikuti 19 negara
05 February 2026 14:01 WIB
Soal isu perbatasan Indonesia-Malaysia picu perdebatan di Parlemen Malaysia
04 February 2026 17:24 WIB
Kepala Staf Kepresidenan Qodari dukung ANTARA jadi ekosistem narasi utama pemerintah
03 February 2026 19:24 WIB