
BUMD Kepri Belum Untung

Tanjungpinang (ANTARA News) - Badan Usaha Milik Daerah Provinsi Kepulauan Riau yang sejak empat tahun lalu berdiri belum menghasilkan keuntungan, padahal pemerintah telah memberikan modal sebesar Rp14 miliar.
Direktur Keuangan Badan Usaha Milik Daerah Kepulauan Riau (BUMD Kepri) M Syahrial, Minggu 26 September 2010, di Tanjungpinang, mengatakan, BUMD Kepri berupaya bangkit dari keterpurukan, dan menargetkan tahun 2011 dapat memberikan kontribusi bagi anggaran daerah.
"Kami mengubah pola dan strategi usaha, yang disinergikan dengan kebijakan pemerintah dan kemampuan anggaran," ujar Syahrial.
Ia mengatakan, PT Pembangunan Kepri (BUMD Kepri) mengalami keterpurukan karena program usaha yang dibuat tidak sesuai dengan kemampuan anggaran.
PT Pembangunan Kepri memiliki rencana usaha yang terlalu besar, tidak seimbang dengan kemampuan modal.
BUMD itu didirikan pada tahun 2006 dengan modal sebesar Rp10 miliar, berencana membangun Bank Kepri dan mengelola sumber minyak di Natuna.
Rencana besar itu tidak membuahkan hasil, meski modal pada tahun 2007 ditambah Rp4 miliar, karena usaha tersebut membutuhkan anggaran ratusan miliar.
"Usaha yang direncanakan itu belum tuntas, sementara modal terkuras," katanya.
Sejak setahun terakhir, kata dia, PT Pembangunan Kepri mulai mengubah strategi usaha baru yang disesuaikan dengan kemampuan modal. Usaha yang dikembangkan saat ini tidak terlalu besar, namun diyakini menghasilkan laba.
PT Pembangunan Kepri telah mendirikan Bank Perkreditan Rakyat di Batam dan Tanjungpinang. Selain itu, PT Pembangunan Kepri berperan sebagai perusahaan importir gula dan penyalur bahan bakar untuk pesawat di Bandara Raja Haji Fisabilillah.
PT Pembangunan Kepri juga berencana menggarap usaha penyediaan pupuk bersubsidi.
"Usaha yang kami kembangkan disinergikan dengan kemampuan pemerintah," ungkapnya.
(ANT-NP/Btm1)
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
