Logo Header Antaranews Kepri

Pembatasan BBM Bersubsidi Butuh Penanganan Komprehensif

Rabu, 8 Desember 2010 23:52 WIB
Image Print

Karimun, (ANTARA News) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau mengatakan, pembatasan bahan bakar minyak bersubsidi membutuhkan penanganan yang komprehensif agar tidak menimbulkan kelangkaan pasokan di stasiun pengisian bahan bakar umum.

''Penanganannya harus komprehensif dan melibatkan seluruh instansi terkait,'' kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Karimun Sudarmadi, di Tanjung Balai Karimun, Rabu.

Sudarmadi mengatakan, teknis pembatasan BBM bersubsidi pada kendaraan roda empat berplat hitam cukup rumit dan dikhawatirkan dapat menimbulkan masalah baru di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

''Selain berpotensi terjadi kelangkaan, benturan antara petugas SPBU dengan pengendara sangat mungkin terjadi. Dan, upaya penyimpangan BBM bersubsidi juga makin terbuka,'' ucapnya.

Menurut dia, pendataan jumlah kendaraan berplat hitam disinkronkan dengan kuota volume BBM nonsubsidi sehingga tidak memicu kelangkaan.

Karena itu, kata dia, penanganan komprehensif tidak hanya melibatkan Disperindag, pengelola SPBU dan Pertamina, tetapi juga pemilik kapal pengangkut BBM serta aparat hukum.

''Penegakan hukum oleh aparat harus ditingkatkan untuk menindak penyimpangan,'' katanya.

Sebagai daerah pulau, Karimun menurut dia belum terlalu siap menyambut kebijakan pemerintah pusat tersebut.

Karena itu, dia menyambut baik penundaan pembatasan BBM bersubsidi untuk wilayah Sumatra pada awal 2011.

''Sampai saat ini belum ada pemberitahuan bahwa pembatasan itu berlaku di Karimun. Dan yang jelas, informasi kami dapatkan bahwa pusat hanya memberlakukannya pada wilayah Jakarta pada awal tahun depan,'' katanya.

Lega

Sementara itu, sejumlah sopir taksi plat hitam mengaku lega dengan penundaan pembatasan BBM bersubsidi di wilayah Sumatra, termasuk Karimun pada awal 2011.

''Terus terang kami cemas dengan rencana pemerintah pusat itu. Masalahnya, kami terpaksa menaikkan ongkos jika kebijakan itu benar-benar direalisasikan Januari 2011,'' kata Bujang, sopir taksi.

Bujang mengatakan, saat ini jumlah penumpang taksi menurun dibandingkan tahun lalu. Dia khawatir pembatasan BBM nonsubsidi membuat para sopir taksi makin terpuruk.

Di Tanjung Balai Karimun, taksi-taksi yang umumnya jenis Toyota Kijang seluruhnya berplat hitam yang mencari penumpang para wisatawan mancanegara di pelabuhan internasional, tempat-tempat hiburan dan hotel.

''Biasanya taksi kami dicarter turis Singapura atau Malaysia yang datang berkunjung,'' katanya.

Angkutan umum berplat kuning hanya oplet dan bus berbahan kayu yang mengangkut karyawan perusahaan dan pelajar.(ANT-028/Btm2)




Pewarta :
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026