Logo Header Antaranews Kepri

Perekonomian Kepri Dinilai Makin Melemah

Senin, 26 September 2011 18:55 WIB
Image Print

Tanjungpinang (ANTARA News) - Sekretaris Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Rudy Chua, menilai perekonomian di daerah setempat makin melemah ditandai dengan hengkangnya sejumlah investor di Batam dan Lobam, Bintan.

"Lapangan pekerjaan semakin berkurang akibat hengkangnya sejumlah investor tersebut, sehingga membuat perekonomian di Kepulauan Riau (Kepri) semakin melemah," kata Rudy Chua di Tanjungpinang, Senin.

Rudy menyebutkan, pertumbuhan ekonomi di Kepri yang disampaikan oleh Gubernur HM Sani pada saat peringatan Hari Jadi Kepri ke-9 di Tanjungpinang, Sabtu ( 24/9) cukup bagus, namun itu hanya berupa angka-angka, belum menunjukkan kondisi riil di masyarakat.

"Angka-angka yang disebutkan Gubernur seperti perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 7,2 persen pada 2010 itu masih berupa angka dan belum menunjukkan kondisi ekonomi riil di masyarakat," kata Rudy yang diusung Partai Perjuangan Indonesia Baru (PPIB).

Dia menyebutkan, melemahnya perekonomian di Kepri sangat dirasakan di ibu kota Tanjungpinang, sehingga masyarakat lebih bergantung kepada Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah (APBD).

"Jika angka-angka yang dimaksudkan oleh Gubernur dalam penyampaiannya adalah angka APBD, itu sah sah saja, namun jika bicara angka ekonomi riil dilapangan saya pikir masyarakat lebih tahu," ujar Rudy.

Menurut dia, masyarakat lebih melihat kondisi riil di lapangan dari pada melihat angka-angka itu.

"Saya pikir masyarakat juga bisa menilai apakah setelah sembilan tahun menjadi provinsi lebih baik dari sebelumnya atau semakin susah," katanya.

Rudy juga mengharapkan pemerintah tidak berpatokan kepada angka-angka yang disajikan karena itu bersifat akumulatif dan sebaiknya melihat kondisi riil dilapangan karena kondisinya jauh dari angka-angka itu.

"Saya pikir saat ini masyarakat semakin menjerit dan pemerintah diharapkan lebih memperkuat ekonomi menengah ke bawah agar masyarakat tidak semakin menjerit," harapnya.

Gubernur Kepri HM Sani dihadapan anggota DPRD dan masyarakat pada peringatan Hari Jadi Kepri ke-9 di Tanjungpinang, Sabtu (24/9), mengatakan pertumbuhan ekonomi setiap tahunnya tumbuh rata-rata 6,5 persen dan selalu berada di atas pertumbuhan rata-rata nasional.

"Pada 2010 pertumbuhan ekonomi Kepri mencapai 7,2 persen dan diharapkan pada 2015 pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 8 persen apabila regulasi, birokrasi dan infrastruktur dapat disempurnakan," kata Sani.

Perkembangan PDRB Kepri 2004-2010, menurut Sani, juga menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dari Rp36,7 triliun pada 2004 menjadi Rp71,6 triliun pada 2010.

Selain itu, menurut dia PDRB perkapita masyarakat Kepri juga mengalami peningkatan dari Rp29,66 juta per tahun atau sebesar Rp2,5 juta per bulan pada 2004 telah meningkat menjadi Rp42,8 juta per tahun atau Rp3,5 juta per bulan pada 2010.

"Pada tahun yang sama, PDRB atau pendapatan perkapita nasional hanya sebesar Rp27 juta per tahun atau Rp2 juta per bulan," kata Sani.

Bahkan menurut Gubernur Sani, tingkat pengangguran di Kepri dari 2006-2010 cendrung mengalami penurunan. "Tingkat pengangguran pada 2010 sebesar 6,96 persen, sementara tingkat pengangguran nasional sebesar 7,14 persen," katanya.

Tingkat inflasi di Kepri khususnya Batam, menurut Sani sebesar 2,48 persen yang juga berada dibawah angka nasional yaitu sebesar 2,69 persen.

Sedangkan indeks pembangunan manusia (IPM) Kepri pada 2010 menurut Sani berada pada posisi keenam secara nasional dengan nilai 74,54.

"Peningkatan angka IPM setiap tahun menunjukkan kemajuan dalam pembangunan manusia di Kepri dari aspek kesehatan, pendidikan dan pendapatan. Hal iti bermakna pembangunan yang dilaksanakan pemerintah provinsi bersama kabupaten/kota telah berdampak positif terhadap pembangunan SDM di Kepri," kata Sani.

(ANT-HM/A023/Btm3)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026