
Perbankan Indonesia Stabil Hadapi Krisis Dunia

Batam (ANTARA News) - Perbankan Indonesia tetap stabil di tengah gejolak krisis ekonomi dunia yang melanda Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.
"Secara keseluruhan patut dicatat bahwa sektor perbankan tetap stabil di tengah gejolak dunia," kata Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Harry Azhar Azis di Batam, Jumat.
Ia mengatakan indikasi kestabilan perbankan Indonesia dapat dilihat dari rasio kredit bermasalah, imbal hasil aktiva, rasio kecukupan modal dan rasio pinjaman terhadap tabungan meningkat.
Menurut Harry yang ekonom dan juga politisi Partai Golkar, stabilnya perbankan Indonesia di tengah krisis global merupakan bukti keberhasilan pemerintah menjaga stabilitas.
Ia mengatakan sejak 1997, pemerintah membuat kebijakan yang fokus untuk menjaga kestabilan perbankan.
"Pihak otoritas melaksanakan agenda reformasi yang mencakup penyempurnaan peraturan dan pengawasan dan memperkuat peran penegak hukum untuk mencapai angka stabilitas," kata Harry.
Dari sisi regulasi, kata dia, pemerintah sudah dalam jalur yang benar baik dalam sisi UU maupun peraturan Bank Indonesia.
"Dalam mewujudkan stabilitas perbankan sudah 'on the right track'," kata anggota DPR RI Daerah Pemilihan Provinsi Kepulauan Riau.
Satu kebijakan yang mendorong stabilnya perbankan Indonesia, kata dia, adalah pendirian Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang dibentuk 2004.
LPS melindungi lebih dari 90 persen penabung bank dan menjamin simpanan sampai Rp2 miliar.
Sementara itu, Kepala Eksekutif LPS, Firdaus Djaelani mengatakan LPS berhasil menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan.
Dengan LPS, masyarakat tidak perlu khawatir simpanannya di bank akan hilang karena bank yang bankrut karena dananya dijamin LPS.
Meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada perbankan membuat industri bank juga makin kuat, kata dia.
(Y011/A013)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
