
Pakar: Tolak Politik Uang

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Pakar politik Provinsi Kepulauan Riau, Zamzami A Karim meminta masyarakat untuk menolak politik uang yang dilakukan figur tertentu menjelang Pilkada Tanjungpinang 2012.
"Pemberian uang dan barang kepada masyarakat dapat berdampak negatif pada masa yang akan datang," kata Zamzami yang juga Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Stisipol) Tanjungpinang, Selasa.
Ia mengatakan, uang atau barang yang diberikan figur yang kemungkinan mencalonkan diri sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang sebagai upaya untuk mendapatkan simpati dari masyarakat. Uang dan barang itu diberikan agar masyarakat merasa berutang budi.
Pemilih rasional yang mengedepankan kepentingan atau keuntungan sesaat dapat terpengaruh dengan bantuan yang diberikan figur yang akan mencalonkan diri pada Pilkada Tanjungpinang 2012 tersebut.
"Pemilih rasional seperti itu hanya menginginkan sesuatu yang pasti, nyata dan dapat dirasakan langsung manfaatnya. Mereka tidak memikirkan masa depan Tanjungpinang," ujarnya.
Sedangkan pemilih rasional yang idealis tidak akan mau menerima uang atau barang yang diberikan oleh figur tertentu, karena mereka menyadari pemberian tersebut merupakan upaya politik untuk memenangkan figur itu.
Pemilih yang idealis cenderung memikirkan masa depan Tanjungpinang. Mereka memahami jika investasi politik yang ditanamkan figur yang akan mencalonkan diri pada pilkada itu akan membahayakan masa depan Tanjungpinang selama lima tahun ke depan.
"Jika figur yang mendekati masyarakat dengan menaburkan uang dan barang itu berhasil menjadi wali kota dan wakil wali kota, maka dikhawatirkan figur itu akan memanfaatkan jabatannya untuk mengembalikan uang yang dikeluarkannya selama proses pilkada. Bahkan kemungkinan figur itu akan memperkaya diri dengan memanfaatkan jabatannya, karena peluang untuk melakukan korupsi itu cukup besar," ungkapnya.
Zamzami berpendapat, pemilih rasional yang berjiwa idealis cukup banyak di Tanjungpinang. Buktinya, pada Pemilu Legislatif 2009 dan Pilkada Kepri tahun 2010, pemilih yang memiliki jiwa idealis tidak tergoda dengan uang dan barang yang diberikan kandidat tertentu.
"Bahkan ada barang yang diberikan oleh politisi tertentu untuk memenangkan pesta demokrasi diambil kembali, karena tidak memperoleh suara yang banyk dari warga yang menerima bantuan tersebut," katanya.
(KR-NP/S023)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
