Logo Header Antaranews Kepri

Kelangkaan Solar Paksa Nelayan Beli BBM Ilegal

Senin, 4 Juni 2012 23:37 WIB
Image Print

Karimun (ANTARA Kepri) - Kelangkaan solar bersubsidi memaksa nelayan tradisional di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau membeli bahan bakar minyak yang dijual secara ilegal, kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Karimun Amirullah.

"Nelayan tradisional terpaksa membeli solar yang diduga dijual secara ilegal oleh kapal-kapal 'tug boat' dan kapal minyak akibat sulitnya mendapatkan solar bersubsidi," katanya di Tanjung Balai Karimun, Senin.

Amirullah mengatakan, harga solar yang dijual melalui kapal-kapal tug boat relatif lebih mahal dibandingkan solar bersubsidi yang dijual di stasiun pengisian bahan bakar (SPBB) terapung.

"Dari pada tidak melaut, mereka lebih baik membeli solar hasil 'kencing' kapal-kapal tug boat itu. Informasinya, solar yang dijual oleh kapal-kapal tug boat itu merupakan jatah untuk daerah lain," ucapnya.

Menurut dia, keberadaan solar yang diduga ilegal itu memang membantu nelayan yang sudah sejak lama mengeluh akibat sering tersendatnya pasokan solar bersubsidi di SPBB terapung di perairan Tanjung Balai Karimun.

"Nelayan tradisional dibatasi untuk membeli solar di SPBB. Selain itu, persediaan solar di SPBB juga sering putus. Timbul pertanyaan, kemana alokasi solar bersubsidi untuk nelayan yang didistribusikan melalui SPBB itu sehingga mereka terpaksa membeli solar dari luar," ucapnya.

Nelayan, kata dia, juga terpaksa membeli solar SPBU Tanjung Balai Karimun yang dijual oknum-oknum pelaku penyimpangan penjualan BBM bersubsidi itu.

"Oknum pelaku penyalahgunaan solar subsidi memanfaatkan kelangkaan solar di laut dengan menjual solar di SPBU yang tentunya dengan harga yang lebih mahal dari pada harga subsidi," ucapnya.

Dia meminta aparat penegak hukum mengusut penyebab sering langkanya solar subsidi untuk nelayan.

"Seharusnya keberadaan SPBB dapat meringankan nelayan, tapi yang terjadi sebaliknya mereka masih juga membeli solar yang dijual secara tidak resmi," katanya.

Ismail, Ketua Kelompok Pengawas Nelayan Kecamatan Buru mengatakan, solar bersubsidi untuk nelayan sempat langka selama tiga pekan pada Mei lalu.

"Ratusan nelayan di Kecamatan Buru berhenti melaut karena kesulitan mendapatkan solar," katanya.

Menurut Ismail, nelayan terpaksa membeli solar yang dijual oknum-oknum tertentu dengan harga lebih mahal dari harga subsidi.

"Biasanya kami membeli seharga Rp170.000 per jeriken isi 32 liter, tetapi kini meningkat jadi Rp210.000 per jeriken. Kami tidak tahu dari mana asal solar itu, tapi biasanya dibeli dengan cara dipesan," ucapnya.

Sementara itu, sebagian nelayan di Kecamatan Meral mengaku sulit mendapatkan solar di SPBB terapung di kecamatan itu.

"Solar di SPBB sering tak ada, kami beli dari kapal-kapal BBM selain itu ada juga dibeli dari daratan," kata seorang nelayan yang enggan disebutkan namanya.

Menurut dia, nelayan lebih mudah mendapatkan solar "abu-abu" dari pada solar melalui penyalur resmi.

"Kalau solar jalur 'abu-abu' bisa dicari, tapi harganya agak mahal dibandingkan di SPBB," lanjutnya. (KR-RDT/N001)

Editor: Nanang Sunarto



Pewarta :
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026