Logo Header Antaranews Kepri

Pakar: Penderita Autis dapat Dipulihkan

Kamis, 14 Maret 2013 22:38 WIB
Image Print

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Pakar autisma Melly Budhiman menyatakan autis bukan merupakan penyakit, dan dapat dipulihkan.

"Autistik adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Tetapi itu dapat disembuhkan," kata Melly, yang juga Ketua Yayasan Autisma Indonesia (YAI), yang dihubungi dari Tanjungpinang, Kamis.

Gejalanya mulai tampak sebelum anak berusia tiga tahun. Bahkan pada autistik infantile, yang gejalanya sudah ada sejak lahir. Diperkirakan 75-80 persen penyandang autistik ini mempunyai retardasi mental.

"Sekitar 20 persen dari mereka mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk bidang-bidang tertentu," ujarnya.

Ia mengatakan, akhir-akhir ini banyak pihak yang mengiming-imingi cara, obat, bahkan suplemen, yang bisa menyembuhkan autism. Terkadang produsen ataupun si penjual jasa sangat gencar berpromosi melalui televisi, radio, media sosial, bahkan tulisan-tulisan.

Namun demikian, orang tua harus berhati-hati jangan sampai membiarkan anaknya menjadi kelinci percobaan. Tidak sedikit orang tua yang terkecoh, setelah mengeluarkan uang cukup banyak, orang tua kecewa karena hasil yang diharapkan tidak tercapai.

"Padahal biaya terapi cukup mahal, dan biasanya dihitung per jam" ujarnya.

Sementara di Tanjungpinang, Komunitas Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus bekerja sama dengan SLB Negeri Tanjungpinang untuk memberi pemahaman yang benar mengenai autisma kepada para orang tua. Bahkan kedua lembaga berencana menggelar seminar mengenai penanganan anak penyandang autisma.

"Jika tidak ada halangan, saya akan menjadi pembicara dalam seminar yang dijadwalkan pada 27 April 2013 itu. Seminar ini diselenggarakan dalam rangka Hari Kepedulian Autisma sedunia, 2 April," katanya.

Wakil Kepala SLB Negeri Tanjungpinang Marsin mengatakan, seminar ini juga bisa menjadi semacam edukasi bagi orang tua, guru, dan masyarakat umum. Banyak orang tua yang masih salah kaprah dalam memahami autisma.

"Jumlah anak penyandang autism baik di dunia maupun di Indonesia, mengalami peningkatan dalam 10 tahun terakhir. Di Batam, Tanjungpinang dan Karimun jumlahnya penyandang autism yang masuk SLB sekitar 60 orang, namun yang tidak masuk SLB jumlahnya diperkirakan lebih banyak," katanya.

Dia memaparkan, pada tahun 1990 jumlah penyandang autisma diperkirakan 1 banding 5 ribu orang. Artinya, dari 5 ribu kelahiran, satu anak terdeteksi menyandang autisma.

"Angka itu meningkat pesat pada tahun 2000 dengan perbandingan 1 banding 500, dan meningkat lagi menjadi 1 banding 100 pada tahun 2009," ujarnya.

Sedangkan, anak-anak penyandang autisma di Provinsi Kepulauan Riau belum terdata dengan baik. "Yang terdata hanya anak-anak autis yang bersekolah di SLB sebanyak 60-an orang. Sebenarnya di luar masih banyak lagi," kata Marsin.

Tetapi, menurut guru SLB yang pernah menyandang guru berprestasi tingkat nasional itu, sampai sekarang belum terdeteksi faktor yang menjadi penyebab tunggal timbulnya gangguan autisma.

"Penyebabnya belum bisa dipastikan. Proses terapi juga tidak bisa dipastikan kapan akan berakhir. Kadang bisa juga sampai seumur hidup. Padahal, biaya terapi anak autis itu mahal, sampai Rp40 ribu per jam. Tapi yang jelas, autisma itu bukan penyakit dan bisa dipulihkan," ujar Marsin.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kepulauan Riau, Iskandarsyah, mendukung kegiatan aktivis dan pemerhati penyandang autism. Menurut dia, orang tua yang mengerti tentang autisma masih sedikit sehingga anak-anak autis acap diperlakukan secara keliru.

"Sudah seharusnya ada gerakan penyadaran. Kita mendukung sosialisasi yang dilakukan pihak komunitas orang tua dan SLB," kata Iskandarsyah yang diusung Partai Keadilan Sejahtera. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026