Logo Header Antaranews Kepri

BKKBN Kepri catat layanan KB gratis jangkau 34.454 peserta baru selama 2025

Kamis, 8 Januari 2026 11:01 WIB
Image Print
Kaper BKKBN Kepri Rohina (depan, kanan) dengan Ketua TP PKK Batam Erlita (kedua dari kiri) sedang mengunjung akseptor KB di bus BKKBN Kepri di Batam, Kepri. ANTARA/HO-BKKBN Kepri

Batam (ANTARA) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mencatat layanan keluarga berencana (KB) gratis sepanjang 2025 telah menjangkau 34.454 peserta baru.

Kepala Perwakilan BKKBN Kepri Rohina saat dihubungi di Batam, Kamis, menyampaikan selain peserta baru, layanan KB gratis juga mencakup akseptor yang mengganti metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) dan peserta yang mengulang penggunaan MKJP yang sama.

Pada 2025, peserta baru tercatat 34.454 akseptor. Selain itu, 4.136 akseptor yang mengganti metode ke MKJP dan 72.043 peserta yang mengulang MKJP. Secara total, layanan KB gratis telah menjangkau 111.043 akseptor di Kepri.

Dari sisi jenis kontrasepsi, layanan KB gratis didominasi metode non-MKJP seperti KB suntik, pil serta kondom.

Untuk metode suntikan satu bulanan, tiga bulanan, dan tiga bulanan progestin tercatat digunakan oleh 74.516 akseptor. Pengguna pil kombinasi dan pil progestin mencapai 15.187 akseptor, sedangkan kondom diberikan kepada 6.543 akseptor.

Baca juga: Kapolda Kepri instruksi Satgas Pangan pantau ketersediaan bahan pokok penting

Untuk metode kontrasepsi jangka panjang, penggunaan implan satu dan dua batang tercatat 9.887 akseptor, Intra Uterine Device (IUD) 3.519 akseptor, tubektomi 1.362 akseptor, serta vasektomi 29 akseptor.

Rohina menjelaskan target peserta baru layanan KB gratis pada 2025 ditetapkan 34.888 akseptor. Namun, target tersebut belum sepenuhnya tercapai.

“Target peserta baru memang belum tercapai. Salah satu kendala di lapangan adalah terkait pendataan di lapangan. Banyak pelayanan KB yang sebenarnya sudah dilakukan, tetapi tidak bisa dilaporkan karena peserta belum terdaftar dalam basis data Sistem Informasi Keluarga (Siga),” kata dia.

Dia mengatakan pembaruan data pada Siga dilakukan setiap tahun, namun kondisi keluarga di masyarakat berubah dengan cepat.

“Contohnya, saat pendataan dilakukan, seseorang belum berkeluarga. Namun di tahun berikutnya sudah memiliki anak dan ingin ber-KB. Layanannya tetap kami berikan, tetapi jika belum terdata di Siga, maka tidak masuk dalam laporan capaian,” ujarnya.

Jika seluruhnya tercatat, pihaknya optimistis lebih dari target 34.888 akseptor baru di daerah setempat.


Baca juga: Karantina Kepri catat nilai perikanan domestik Natuna capai Rp144,43 M



Pewarta :
Editor: Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026