Logo Header Antaranews Kepri

IHSG tertekan, ekonom sebut imbas "panic selling"

Kamis, 29 Januari 2026 11:52 WIB
Image Print
Seorang wanita berjalan melewati refleksi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/1/2026). BEI menghentikan sementara perdagangan (trading halt) pada pukul 13.43 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) setelah penurunan IHSG mencapai delapan persen ke posisi 8.261,79 imbas dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara (hold) proses rebalancing indeks untuk saham-saham di pasar saham Indonesia. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/bar

Jakarta (ANTARA) - Ekonom keuangan dan praktisi pasar modal Hans Kwee menilai tekanan yang terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis ini, imbas dari panic selling pelaku pasar pasca pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait penangguhan rebalancing indeks saham-saham Indonesia.

Ia memproyeksikan sentimen negatif ini bersifat jangka pendek, dan IHSG akan rebound (berbalik menguat) setidaknya pada pekan depan.

"Pasar masih panik karena MSCI," ujar Hans dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis.

Selain itu, Hans menyebut pelaku pasar khawatir terhadap proyeksi Goldman Sachs, yang memproyeksikan potensi arus dana keluar (capital outflow) mencapai 2,2 hingga 7,8 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

"Ditambah Goldman Sachs yang memperkirakan potensi arus keluar dana pasif dari pasar saham Indonesia bisa mencapai 2,2 miliar hingga 7,8 miliar dolar AS pasca-penilaian MSCI," ujar Hans.

Hans memproyeksikan tekanan terhadap IHSG akan bersifat jangka pendek, dan memproyeksikan akan kembali pulih setidaknya pekan depan.

Namun demikian, Ia menyebut rebound IHSG tidak akan terlalu signifikan, dan cenderung menguat secara bertahap.

"Hal ini bersifat jangka pendek. Kami pikir akhir pekan atau minggu depan pasar saham sudah normal, tapi mungkin indeks kita tidak akan naik terlalu kencang lagi. Cenderung sideways menanti hasil final MSCI, " ujar Hans.

Di tengah koreksi IHSG saat ini, Hans merekomendasikan pelaku pasar untuk melakukan aksi beli (net buy), serta melakukan akumulasi secara bertahap terhadap saham-saham berfundamental bagus.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: IHSG tertekan, ekonom sebut "panic selling" jangka pendek



Pewarta :
Editor: Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026