
Legislator: Ekonomi Indonesia Masih "Dijajah"

Tanjungpinang (Antara Kepri) - Satu catatan penting terkait peringatan 105 tahun Hari Kebangkitan Nasional Indonesia, di antaranya adalah sampai saat ini negeri ini belum merdeka secara ekonomi, kata Wakil Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Edi Siswoyo, di Tanjungpinang, Kamis.
"Karena itu dibutuhkan strategi khusus untuk mengatasi persoalan ini," tambah Edi, yang menjadi narasusmber dalam seminar yang digelar Komunitas Bakti Bangsa dan BEM STIE Pembangunan dalam rangka peringatan Hari Pendidikan dan Hari Kebangkitan Nasional.
Menurut dia, perekonomian bangsa Indonesia masih dijajah. Indikasi adalah penjajahan perekonomian dapat dilihat di Muka Kuning Batam, karena dikuasai pengusaha asing.
"Ekonomi kerakyatan, yakni koperasi tidak masuk ke situ. Kita semua hanya jadi penonton," ungkapnya. Wakil Ketua DPRD Kepri Edi Siswoyo.
Seminar ini sendiri mengambil tema Peran Pendidikan Karakter sebagai Pilar Bangsa. Seminar yang dimoderatori oleh Dosen Fekon UMRAH Sri Ruwanti ini menghadirkan empat pembicara. Selain Edi Siswoyo, juga tampil Ketua Dewan Pendidikan Kota Tanjungpinang Zamzami A Karim, perwakilan dari Kodim 0315 Bintan Eka Septiariawan Nasution dan Wakil Ketua DPD KNPI Kota Tanjungpinang Murdani Hadinata.
Edi Siswoyo menjelaskan bahwa, dalam persaingan global, bangsa yang tidak memiliki kekuatan SDM, hanya akan menjadi penonton. Hal ini yang tengah dialami oleh Indonesia.
"Kami berharap generasi muda harus mempersiapkan diri untuk persaingan global itu. Nah di sinilah letak pentingnya pendidikan karakter, untuk membentuk manusia Indonesia yang kuat," ujarnya di hadapan ratusan pelajar mahasiswa dari berbagai organisasi.
Salah satu tugas pembentukan karakter itu dilakukan oleh dosen dan guru. Namun Edi melihat, meski tidak semua, namun banyak dosen dan guru yang jebolan luar negeri, terutama dari negara-negara Barat, mereka pulang dan membawa budaya Barat untuk diterapkan di lembaga pendidikan kita.
"Padahal belum tentu cocok dengan budaya kita. Ini semua tergantung dari mahasiswa, bisa menerima atau tidak," katanya.
Pembicara lainnya, Ketua Dewan Pendidikan Kota Tnajungpinang Zamzami A Karim melihat, tantangan ke depan yang akan dihadapi Indonesia semakin kompleks.
Karena itu, kata dia, dibutuhkan strategi pendidikan tersendiri untuk mewujudkan karakter manusia Indonesia masa depan, yakni karakter yang mampu bersaing, tidak manja, tidak mudah menyerah, dan pekerja keras.
Globalisasi menurut Zamzami telah mengubah warga di berbagai belahan dunia dengan berbagai strategi. "Melalui berbagai jejaring sosial, seperti twitter, facebook, dan lainnya, itu semua akan mempengaruhi bangsa kita," papar Zamzami. Ia menjelaskan bahwa jejarin sosial ikut berkontribusi besar dalam pembentukan karakter bangsa Indonesia sesuai dengan keinginan pencipta tekhnologi itu sendiri.
Seminar yang digelar selama sekitar tiga jam itu, menurut Ketua Panitia Mimi Sutri, bermula dari laar belakang keprihatinan Komunitas Bakti Bangsa terhadap perkembangan Indonesia saat ini. Meski Indonesia adalah bangsa yang besar dan kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia, namun belum mampu membuat bangsa ini sejahtera. SDA yang ada justru banyak dikelola oleh pihak asing, sementara SDM yang handal banyak yang belum mau pulang ke Indonesia.
"Karena itulah kita ingin melihat pentingnya pendidikan karakter untuk membangun watak bangsa Indonesia yang akan datang," papar Mimi Sutri. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
