Logo Header Antaranews Kepri

Inflasi Kepri 2013 Melambung Hingga 8,20 Persen

Sabtu, 28 Desember 2013 13:58 WIB
Image Print

Batam (Antara Kepri)- Bank Indonesia memperkirakan inflasi di Provinsi Kepulauan Riau pada tahun ini melambung mencapai kisaran 8,00 hingga 8,20 persen, jauh lebih tinggi ketimbang 2,38 persen pada tahun lalu.

Tingginya persentase tersebut dipengaruhi kenaikan harga BBM bersubsidi, kenaikan tarif listrik, dan pelemahan nilai tukar rupiah, kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kepri Gusti Raisal Eka Putra, dalam kuliah umum di Fakultas Ekonomi Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) di Batam, Jumat.

Hingga November 2013, inflasi Kepri sudah 8,32 persen "year on year" (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 8,37 persen (yoy), ujar Gusti yang sebelumnya menyampaikan bantuan BI berupa sarana pendidikan senilai Rp88 juta untuk UMRAH, serta masing-masing Rp10 juta untuk tujuh masjid dan mushalla.

Ia memperkirakan kisaran 8,00 persen hingga 8,20 persen dengan memperhatikan kemungkinan realisasi inflasi antara 0,45 persen hingga 0,55 persen (mtm) pada akhir triwulan IV.

Inflasi pada Desember juga dipengaruhi oleh hambatan distribusi bahan makanan karena gelombang laut pasang pada musim angin utara, kenaikan kebutuhan konsumsi masyarakat menjelang hari raya Natal dan Tahun Baru, serta kenaikan tarip angkutan udara pada akhir tahun.

Gusti mengatakan laju inflasi serta berbagai tantangan perekonomian global maupun domestik juga berdampak melambatkan pertumbuhan perekonomian Kepri sepanjang 2013 yang diprediksi hanya akan mencapai kisaran 4,5 persen hingga 5,2 persen, melorot tajam bila dibandingkan dengan realisasi 8,21 persen (yoy) pada 2012.

Prakiraan itu, katanya, diperhitungkan dengan memperhatikan perkembangan pertumbuhan sejak triwulan I yang mencapai 7,96 persen (yoy), kemudian melorot pada triwulan II menjadi 5,17 persen (yoy), dan pada triwulan III hanya 3,48 persen (yoy), sedangkan pada triwulan IV pun kemungkinan hanya akan 2,8 persen hingga 3,8 persen (yoy).

Pada triwulan IV-2013, terdapat sejumlah faktor penahan laju pertumbuhan ekonomi Kepri, antara lain konsumsi masyarakat yang cenderung tertekan sebagai dampak tingginya inflasi serta pelemahan nilai tukar.

Laju investasi, kata Gusti, juga diprakirakan tertahan oleh permasalahan status lahan (hutan lindung). Berlanjutnya pelemahan ekonomi global juga berdampak ke perlambatan net ekspor dari Kepri.

Perlambatan ekonomi dipengaruhi pelemahan konsumsi rumah tangga dan investasi.

Menurut Gusti, konsumsi rumah tangga melambat selaras dengan kenaikan inflasi, sedangkan realisasi investasi juga tumbuh melemah akibat berbagai faktor, seperti ketidakpastian status lahan di Batam dan dinamika penetapan UMK yang tidak memberikan kepastian pada calon investor. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026