
570 Benda Pusaka Dipamerkan dalam PPN

Batam (Antara Kepri) - Sebanyak 570 benda pusaka dari berbagai daerah di Indonesia dan Malaysia dipamerkan dalam Pekan Pusaka Nusantara yang diselenggarakan Kadin Kepulauan Riau di Batam, mulai Kamis hingga Minggu (1/6).
"Pameran ini untuk memberikan edukasi tentang kebudayaan dan warisan-warisan sejarah, bukan hanya Indonesia, melainkan juga negara-negara ASEAN yang saling berhubungan," kata Ketua Kadin Kepri Soraya Djajakusuma di Batam, Kamis.
Pameran yang digelar bersamaan dengan ASEAN Small Medium Enterprises Expo 2014 itu juga untuk membangun industri produk yang berbasis warisan budaya, seperti keris, pedang, kujang, dan mahkota.
Menurut dia, industri yang berbasis pada warisan budaya potensial dikembangkan pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 mengingat banyaknya persamaan sejarah di negara-negara ASEAN.
"Negara-negara di kawasan ASEAN secara antropologi memiliki keterkaitan sejarah dan kebudayaan yang erat dan dalam berbagai hal masih berlangsung hingga kini," kata perempuan yang akrab disapa Nada.
Pemerhati budaya Jawa Barat Aris Kurniawan berharap masyarakat dapat lebih menghargai dan mencintai warisan leluhur melalui pameran itu.
"Bagi sebagian orang, kujang hanya sekadar besi tua. Padahal, lebih dari itu," kata dia.
Sementara itu, Kepala Galeri Pusaka Widji Sragen Sigit Hendrasto berharap pameran itu dapat mengenalkan warisan sejarah kepada masyarakat luas.
Dari Sragen, dia membawa 161 buah benda pusaka. Sebanyak 60 di antaranya adalah keris.
Keris adalah benda pusaka asli Indonesia dan sudah terdaftar di UNESCO sebagai warisan budaya nonbendawi manusia sejak 2005.
Meski begitu, penggunaan keris tidak hanya di Indonesia. Menurut dia, keris dibawa Majapahit sehingga tersebar hingga semenanjung Malaya, Thailand Selatan hingga Mindanau, Filipila Selatan.
"Keris di setiap daerah memiliki kekhasan sendiri-sendiri dalam penampilan, fungsi, teknik garapan, serta peristilahan. Keris Mindanao dikenal sebagai kalis," kata dia. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
