TPID: Kepri Alami Inflasi Terburuk

id TPID, inflasi, inflasi kepri, gusti raizal eka putra, bank indonesia,

"Lebih tinggi dibanding rata-rata historisnya 3 tahun terakhir yaitu inflasi 0,22 persen (mtm)," kata pria yang juga menjabat Kepala Kantor BI Kepri itu.

Batam (AntaraKepri) - Tim Pengendali Inflasi Daerah Provinsi Kepulauan Riau mencatat pada Mei 2017, daerah itu mengalami inflasi terburuk dibanding rata-rata inflasi bulanan dalam beberapa tahun terakhir.

Ketua II TPID Kepri, Gusti Raizal Eka Putra di Batam, Rabu, menyatakan inflasi Mei sebesar 0,54 persen (mtm) atau 5,04 persen(yoy), meningkat dibanding April yang mencatatkan inflasi 0,38 persen (mtm) atau 4,44 persen (yoy).

"Lebih tinggi dibanding rata-rata historisnya 3 tahun terakhir yaitu inflasi 0,22 persen (mtm)," kata pria yang juga menjabat Kepala Kantor BI Kepri itu.

Tingkat inflasi Kepri pada Mei lebih tinggi dibanding inflasi nasional sebesar 0,39 persen (mtm) atau 4,3 persen (yoy).

TPID mencatat, inflasi Indeks Harga Konsumen hingga Mei mencapai 0,98 persen ytd. 

Kelompok komoditas volatile food menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,28 persen, diikuti administresed price dan inti dengan andil maisng-masing 0,24 persen dan 0,01 persen.

Inflasi kelompok administresed price sebesar 1,04 persen (mtm), melambat dibanding April yang mengalami inflasi sebesar 3,37 persen (mtm) dengan andil 0,17 persen.

Hal itu disebabkan meningkatnya permintaan di tengah banyaknya hari libur nasional yang jatuh di awal dan akhir pelan bulan Mei.

Sedangkan inflasi bahan bakar sebesar 0,67 persen (mtm) disumbang oleh kenakan harga Pertalite Rp100 per liter.

Kelompok volatitel food mencatatkan inflasi sebesar 1,47 persen (mtm) juga meningkat dibanding bulan sebelumnya yang mencatatkan deflasi 1,48 persen (mtm).

Andil terbesar inflasi bersumber dari komoditas bayam, cabai merah dan bawang putih. Kenaikan harga bayam dan cabai merah akibat terbatasnya pasokan yang terkendala masalah distribusi sebab cuaca di daerah pengasil.

Selain itu inflasi cabai merah juga karena peningkatan permintaan jelang Ramadhan.

Sedangkan kenaikan harga bawang putih disebabkan pasokan yang terbatas serta belum adanya pengaturan impor bawang putih secara tegas oleh pemerintah.

Sementara kelompok inti mencatatkan inflasi 0,02 persen (mtm) meningkat dibanding bulan sebelumnya yang deflasi 0,18 persen (mtm).

Andil terbesar inflasi bersumber dari komoditas ketupat atau lontong sayur dan bubur yang inflasi 4,97 persen (mtm) dengan andil iflasi 0,03 persen.

Kenaikan inflasi ketupat atau lotong sayur dan bubur diperkirakan sebagai dorongan peningkatan permintaan saat Ramadhan yang mulai sejak akhir mei 2017.

"Komoditas parfum dan bawnag bombay juga turut menyumbang inflasi keompok inti," kata Gusti.

Editor: Budi Suyanto

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar