Logo Header Antaranews Kepri

Banyak pelabuhan di Indonesia tidak punya derek

Rabu, 11 April 2018 16:26 WIB
Image Print
Puluhan kontainer berada di Dermaga Utara Batuampar, Batam. (Antaranews Kepri/Messa Haris)
Dengan kapal ini kita bisa ke pelabuhan-pelabuhan yang tidak ada crane-nya dan ini menjadi lebih efisien

Batam (Antaranews Kepri) - Lambatnya aktivitas bongkar muat di pelabuhan-pelabuhan Indonesia dikarenakan banyak yang tidak memiliki derek atau "crane" sehingga para Anak Buah Kapal (ABK) membutuhkan waktu lama untuk menurunkan kontainer.

"Kapal seperti ini sangat kita perlukan (MV Dharma Lautan Intan) karena ada cranenya di dalam," kata Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini M Soemarno, di Batam, Rabu.

Baca juga: Menteri BUMN resmikan kapal curah batubara

Rini mengatakan saat ini banyak pelabuhan-pelabuhan di Indonesia tidak mempunyai crane, sehingga sangat sulit sekali untuk menaikkan dan menurunkan kontainer.

Kata Rini, dengan dibelinya kapal MV Dharma Lautan Intan oleh PT Djakarta Lloyd (Persero) semua permasalahn tersebut bisa diatasi. Sehingga waktu yang untuk bongkar muat kontainer menjadi lebih singkat.

"Dengan kapal ini kita bisa ke pelabuhan-pelabuhan yang tidak ada crane-nya dan ini menjadi lebih efisien," ujarnya.

Rini menambahkan dirinya sangat senang PT Djakarta Lloyd sudah mendapatkan keuntungan. Karena sebelumnya perusahaan tersebut sudah bertahun-tahun tidak beroperasi dengan baik.

"Seperti sambutan bapak Dirut tadi karyawan-karyawan yang tidak dipekerjakan lagi sudah bayarkan pesangonnya dan sudah diselesaikan," katanya.

Menurut Rini, ini menjadi lembaran baru bagi PT Djakarta Lloyd dan dengan adanya tambahan kapal itu bisa memberikan pelayanan yang lebih baik lagi kepada masyarakat Indonesia khususnya yang beada di pulau-pulau terdepan.

Sementara itu Jaksa Agung RI Muhammad Prasetyo mengatakan pembelian kapal MV Dharma Lautan Indah bukan merupakan keinginan melainkan kebutuhan.

"Ini karena kebutuhan mendesak dan kalau kita bangun sendiri waktunya lama bisa sampai tiga tahun," katanya.

Sementara kata Prasetyo, selama pembuatan kapal dengan durasi kurang lebih tiga tahun, PT Djakarta Lloyd diwajibkan untuk memenuhi kebutuhan batu bara di Indonesia.

Pembelian kapal MV Dharma Lautan Indah melalui proses lelang dan dana pembelian bersumber dari kas internal PT Djakarta Lloyd serta pinjaman perbankan dengan nilai US$12 juta atau sekitar Rp164 miliar.(Antara)

Baca juga: Rini tinjau Program Padat Karya Tunai di Batam



Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026