Imigran berhenti demo hargai HUT Republik Indonesia

id Pencari, suaka, hentikan, demo, lantaran,menghargai, HUT RI

Alzobier Pasha (27), pencari suaka asal Sudan, yang turut berdemonstrasi di depan Kantor Organisasi Internasional untuk Migrasi Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Jumat. (ANTARA/Nikolas Panama)

Tanjungpinang (ANTARA) - Ratusan imigran pencari suaka memutuskan hari ini terakhir mereka menggelar unjuk rasa lantaran menghargai HUT ke-74 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2019.

"Kami ikut bahagia menyambut HUT RI. Karena itu, hari ini hari terakhir pada bulan ini kami demonstrasi," kata Alzobier Pasha (27), pencari suaka asal Sudan, di sela-sela aksi unjuk rasa di Kantor Organisasi Internasional untuk Migrasi Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Jumat.

Alzobier yang fasih berbahasa Indonesia mengatakan alasan lain untuk tidak berdemonstrasi yakni ikut merayakan Idul Adha pada 11 Agustus 2019. "Ini adalah hari besar Islam. Kami merayakannya," ucapnya.

Bulan depan para pencari suaka kembali melakukan aksi unjuk rasa, setiap hari kerja hingga pemerintah Indonesia mau membantu para pencari suaka. "Kami mendesak UNHCR agar bertanggung jawab, menempatkan kami ke Amerika Serikat, Kanada atau Australia," katanya.

Juga baca: Ratusan pencari suaka tuntut percepatan penempatan

Juga baca: Rudenim lepaskan enam pengungsi luar negeri dari sel isolasi

Juga baca: Balada pengungsi korban perang di Jakarta

Ia berkata, hari ini merupakan hari kelima para pengungsi berdemonstrasi, namun belum membuahkan hasil. Tuntutan mereka tetap sama yakni keadilan dan kebebasan. "Kami ingin diperlakukan sebagai anak bangsa, mendapat kebebasan, keamanan, kenyamanan, pekerjaan, pendidikan, dan dapat menikah," katanya.

Ia berkata, demonstrasi ini menguras energi para pencari suaka. Mereka harus mengeluarkan uang untuk menyewa angkot. Satu angkot disewa dengan harga Rp150.000 sekali jalan dan mereka mengerahkan sembilan mobil. 

Sementara dalam sebulan mereka hanya mendapatkan uang dari IOM sebesar Rp1,2 juta/bulan/jiwa, yang dianggap tidak mencukupi. "Terpaksa kami mengurangi makan yang biasanya dua kali sehari, menjadi sehari sekali untuk membayar sewa angkot," katanya.
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar