Batam (ANTARA News) - Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad, mengharapkan Batam menghentikan impor lele dan mampu memenuhi kebutuhannya setiap hari.

"Saya harap impor lele bisa dihentikan, dan Batam bisa memenuhi kebutuhannya sendiri," kata Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad, di Batam, Kamis.

Saat ini, kata Menteri, kebutuhan lele Batam 14 ton per hari, dan sebagian besar diimpor dari negara jiran. Petani budidaya lele baru mampu memenuhi sebagian kecil kebutuhan masyarakat.

Tidak hanya Batam, kata Menteri melanjutkan, impor segala jenis ikan di setiap daerah di Indonesia harus dihentikan, mengingat Indonesia adalah negara maritim yang kaya berbagai jenis ikan.

Ia mengatakan, untuk mendukung swasembada lele, Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan sejumlah bantuan epada petani budi daya lele di kota industri.

"Kami memberikan serangkaian bantuan agar Batam bisa budidaya lele," kata Menteri.

Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan bantuan budidaya lele di Batam sebesar Rp250 juta. Bantuan diberikan kepada lima kelompok budi daya lele, yang masing-masing menerima Rp50 juta.

Menteri mengatakan, bantuan dana yang diberikan merupakan tahap awal, karena Kementerian masih akan memberikan rangkaian bantuan budidaya lainnya.

"Kita akan kembangkan minapolitan. Kedepan, akan kita naikkan bantuan menjadi 100 juta per kelompok budidaya ikan," kata dia.

Selain bantuan dana, kementerian juga memberikan 250 ekor bibit ikan lele untuk masing-masing kelompok budidaya lele.

Kementerian juga menyalurkan 3.000 bibit ikan, yang terdiri dari 1.000 ekor kakap putih, 1.000 ekor kerapu macan dan 1.000 ekor ikan bawal.

Sementara itu, Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan, mengatakan, pengembangan budi daya ikan di Batam dipicu tingginya kebutuhan ikan, apalagi lele.

Setiap hari, kebutuhan lele di Batam mencapai 14 ton, sedangkan masyarakat baru mampu menghasilkan sekitar dua ton.

''Sisanya masih diimpor dari Malaysia," kata Wali Kota.

(ANT-YJN/M012/Btm3)